Filosofi Cermin Untuk Mengetahui Kelebihan Diri

Filosofi Cermin Untuk Mengetahui Kelebihan Diri

Ħăii … Pernah nggak sih kamu merasa kurang PD? Kayaknya banyak banget kekurangan pada diri sendiri. Terasa beda kalau melihat orang lain. Duh, kenapa ya jadi begini. Sepertinya perlu tahu filosofi cermin untuk mengetahui kelebihan diri. 

Terus kalau sudah tahu, apa yang sebaiknya dilakukan? Bisa lebih memaknai kehidupan ini dengan sepenuh hati dan jiwa, juga berusaha tidak mengeluh pada kejadian yang tidak kita inginkan. 

Filosofi Cermin Untuk Mengetahui Kelebihan Diri

Beberapa hari yang lalu Ria sempat curhat sambil menguraikan air mata. Dia mempertanyakan kenapa dirinya punya banyak kekurangan. Wajahnya terlihat biasa dan tidak terlihat adanya kelebihan dalam diri. Sedangkan kalau dia melihat Citra, kayaknya perempuan itu bagaikan bintang yang bersinar dan punya banyak kelebihan.  

Pernah nggak sih kamu merasakan hal yang sama seperti Ria? Terus apa yang dilakukan? Kalau saya bisanya coba bercermin. Ya, di depan cermin mematut diri. Melihat apa sih pesona yang ada dalam diri kita. Benar nggak sih kita memang kelihatan kurang menarik? 

Satu per satu diperhatikan. Mulai dari kepala, rambut, sekitar wajah terus sampai ke kaki. Semua organ berfungsi dengan baik dan jumlahnya juga sesuai. Lengkap, sempurna. 

Jikalau bentuknya tidak sesuai harapan kita, itu karena ekspektasi kita yang terlalu tinggi. Bukankah Sang Khalik menciptakan hamba-Nya dengan bentuk yang sempurna. 

“Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin : 4)

Berarti tidak ada yang salah dalam kondisi fisik kita. Jika secara fisik tidak ada kekurangan, lalu bagaimana kita tahu kelebihan yang dimiliki? 

Ada yang berpendapat kalau kelebihan yang kita miliki lebih mudah dilihat oleh orang lain. Diri sendiri sulit melihat kelebihan yang ada karena sudah sibuk dengan menatap kelebihan orang lain. 

Kembali ke filosofi cermin untuk mengetahui kelebihan diri. Saat kita bercermin apa yang kita lihat? Jika kita bercermin seluruh tubuh maka akan terlihat seluruh tubuh juga. Tidak ada yang tertutupi. Ya, cermin tidak akan bisa berbohong. Tampilannya jujur apa adanya. 

Bercermin membuat kita memahami apa kelebihan diri. Tidak membandingkan dengan sosok yang lain. Kita terlihat apa adanya. Membuat kita melakukan introspeksi diri. 

Di luar sana, ada insan yang kondisi tubuhnya kurang sempurna, tetapi tidak marah dengan Allah. Bisa memaknai kehidupan dengan baik. Kenapa kita tidak?

 

Selalu Bersyukur Atas Semua Nikmat

Sang Khalik memberikan banyak nikmat kepada semua hamba-Nya. Terkadang kita lupa akan nikmat yang dirasakan. Kondisi tubuh sehat, rezeki lancar, anggota keluarga juga sehat semua, punya rumah yang teduh, tempat bekerja nyaman. 

Coba bandingkan dengan kondisi yang lain. Ada yang sakit dan belum kunjung sembuh. Belum memiliki pekerjaan layak sehingga untuk pemenuhan keseharian seringkali kekurangan. Rumah yang diharapkan belum bisa dimiliki sehingga sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain. 

Banyak kenyataan yang terlewat dari kasat mata kita karena kita sibuk dengan urusan sendiri. Semoga ini tidak membuat kita lalai ya. 

 

Tetap Tegar dan Tersenyum

Menjalani kehidupan bukanlah dengan mencapai kesempurnaan. Namun berusaha melakukan hal yang terbaik untuk memberikan kebermanfaatan buat diri dan sesama. Menikmati semua ujian yang terjadi dengan tegar dan tetap tersenyum menawan. 

Ujian setiap insan sudah disesuaikan dengan kemampuannya masing-masing. Sang Khalik tidak akan salah dalam menentukan kadarnya. Bagaimana menemukan solusinya? Terus berusaha dengan berpikir positif dan tenang. Hasilnya minta yang terbaik kepada-Nya. 

Filosofi cermin untuk mengetahui kelebihan diri bertujuan untuk membuat kita makin semangat dalam menjalani kehidupan. Kekurangan yang dimiliki terus berusaha diperbaiki dengan meningkatkan kemampuan diri. Bukan dengan putus asa atau patah semangat. 

Bukankah apa yang kita lakukan saat ini nantinya akan terlihat hasilnya di masa depan. Jadi kalau terus berpangku tangan karena memikirkan kekurangan, bagaimana mau berhasil. 

Selama 33 tahun terakhir, aku selalu melihat cermin setiap pagi dan bertanya pada diri sendiri: “Jika hari ini adalah hari terakhirku apakah aku akan tetap melakukan apa yang aku rencanakan hari ini?” Jika jawabannya ‘Tidak’ maka beberapa hari berturut-turut, aku tahu kalau harus merubah sesuatu. (Steve Jobs) 

Memaknai Kehidupan

Menjadi Insan yang Berilmu dan Berakhlak

Pernahkah kamu merasakan kesepian dan hati terasa kosong? Apa yang kamu lakukan? Ada yang jalan-jalan, nonton, mendengarkan musik atau ngobrol dengan orang yang asyik dan mau mendengarkan keluh kesah kita. 

Bagian terakhir yang sering jadi pilihan. Kenapa? Karena setelah kita berbagi, hati jadi lebih lega dan sepi yang dirasakan jadi terlupakan. Ya, karena merasa masih ada orang yang mau peduli dengan kita. 

Bagaimana kalau curhat dengan Sang Khalik? Tentu yang kita rasakan jauh lebih tenang dan merasa nyaman. Namun seringkali kita mendekat saat pada Sang Ilahi saat susah saja. Dikala senang lupa dan menikmati kebahagiaan begitu saja. 

Dasar keimanan yang kita miliki akan mampu menguatkan jiwa dalam menjalani kehidupan ini. Menerima semua kondisi dengan legowo, tanpa menuntut dan tidak silau dengan kelebihan orang lain. 

Begitupun saat diri merasa lemah. Berusaha mencari energi baru kepada Sang Khalik dengan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Mencurahkan semuanya dan meminta petunjuk yang terbaik. Tidak hanya mendekat saat butuh saja, tetapi setiap saat. 

Jiwa ini akan kembali kepada-Nya. Apakah waktu yang berjalan akan disia-siakan begitu saja? Apakah hanya kekurangan diri yang akan kita ulas terus menerus? Apakah kita sudah memberikan yang terbaik kepada Sang Khalik? Sudah mampukah menjalankan apa yang di perintahkan dan menjauhi larangan-Nya. 

Jika sudah, teruslah istikamah. Bila belum maksimal melakukannya, maka teruslah berusaha dengan belajar dan menggali ilmu. Tak pernah ada kata terlambat selama diri mau terus berusaha.  

Baca juga :

Penutup

Filosofi cermin untuk mengetahui kelebihan diri sehingga kita tidak melulu memandang kekurangan diri. Setiap insan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sosok sempurna ada pada diri Rasulullah saw. yang menjadi suri teladan kita dalam menjalani kehidupan ini. 

Berkaca pada cermin yang tidak pernah berbohong dan menunjukkan diri apa adanya. Memahami kekurangan yang ada untuk terus memaju diri agar menjadi insan yang lebih baik lagi. Agama menjadi pondasi jiwa yang menguatkan segalanya. Mampu melangkah untuk terus maju. Menguatkan diri untuk tidak silau dengan cahaya yang terpancar dan berusaha fokus dengan tujuan kehidupan. Kekurangan menjadi kekuatan diri untuk menjadi insan yang lebih baik lagi. Insya Allah. 

Salam,

Share the article :

26 komentar untuk “Filosofi Cermin Untuk Mengetahui Kelebihan Diri”

  1. Ping-kembali: Tips Bersyukur Atas Semua Nikmat - UmmiSyifa.com

  2. Kupikielr tadi filosofi cermin untuk selalu evaluasi diri, melihat kekurangan, sehingga ketika meraih kesuksesan ngga mudah jadi sombong dan silau sama pujian. MasyaAllah tapi filosofi cermin satu ini beda yaah, jadi lebih menghargai diri sendiri, bersyukur. Thanks tulisannya mbaa

  3. Kesempurnaan hanya milik yang MahaKuasa. Dengan paham hal tersebut dan bersyukur karena telah diciptakan dengan baik sebagai makhluk yang baik seharusnya tidak ada lagi merasa kurang anu, inu ya

  4. makanya ada yg sering bilang “makanya ngaca donk..” ternyata klo diambil dr segi positifnya sih agar qt seringkali mengetahui dan mendalami gambar diri qt

  5. Ping-kembali: Muslimah Fashion Blogger Now (Resensi Ebook) - UmmiSyifa.com

  6. Subhanallah, tulisannya jadi reminder banget deh ke aku. Kadang, aku seringkali tidak bersyukur. Padahal apa yang ada di dalam diri, bisa jadi banyak kelebihannya. Semoga mulai saat ini bisa lebih bersyukur.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *