Banjir Datang Mengepung Wilayah Sekitar

Banjir Datang Mengepung Wilayah di Sekitar

Ħăi … Bagaimana kondisi di sekitarmu? Semoga semua dalam keadaan aman. Sudah melihat pemberitaan beberapa hari inikah? Tentu sudah. Ya, beberapa daerah mengalami musibah. Gempa, tanah longsor juga banjir datang mengepung wilayah sekitar. Apa yang kamu rasakan?  

Banjir Datang Mengepung

Saya pernah mengalami kondisi kebanjiran bulan Januari tahun 2007. Kata para ahli klimatologi, musibah banjir yang beberapa tahun lalu terjadi itu merupakan banjir lima tahunan. 

Waktu itu saya sedang hamil, jelang persalinan juga. Duh, rasanya khawatir banget. Bikin ketar ketir. Meskipun sudah lama terjadi, tetapi masih tetap teringat bahkan jadi memori tak terlupakan. 

Mati lampu, tidak bisa kemana-mana, air bersih berkurang dan air luapan banjir terus bertambah sampai akhirnya masuk ke rumah. Awalnya masuk dari toilet dulu. Gerakan air tidak bisa ditahan sampai akhirnya terus bertambah sampai semata kaki lebih. 

Memang tidak sampai tinggi, tetapi untuk kondisi rumah saya yang termasuk dataran tinggi, kejadian ini tidak biasa. Sebelumnya tidak pernah mengalami. Memang di sekitar rumah ada kali yang sering meluap dan membuat rumah di sekitarnya kebanjiran. 

Saat Banjir Menerjang

Namun kalau luapannya sampai ke rumah saya, berarti banjirnya benar-benar tinggi. Kondisi Jakarta waktu itu seperti lautan. Dimana-mana mengalami kebanjiran. Akses kendaraan jadi sulit sehingga membuat banyak orang yang kesulitan mendapatkannya. 

Kondisi ini berlangsung sekitar dua mingguan lebih, kemudian pulih kembali. Tahukan apa yang sulit setelah kejadian itu? Proses pembersihan. Meskipun air hujan yang masuk ke dalam rumah, kalau tidak segera dibersihkan bisa meninggalkan aroma yang kurang sedap. Belum lagi lumpur yang mengendap. Perlu terus dialiri air supaya bisa benar-benar bersih, tidak ada yang mengendap. 

Para tetangga banyak yang mengungsi. Meski begitu kondisi rumah mereka tetap aman, karena warga yang lain saling menjaga satu sama lain. Saya dan keluarga tidak mengungsi karena alhamdulillah rumah tingkat dua. Jadi mengungsi ke rumah atas saja. 

Hikmah Dibalik Musibah

Kejadian 13 tahun lalu jadi pengalaman berharga dalam hidup saya dan keluarga. Bisa merasakan bagaimana saat musibah banjir itu datang. Mengungsikan barang berharga ke tempat yang lebih aman. Menjaga semua anggota keluarga agar tetap bersama dan mau saling berbagi dengan tetangga lainnya. 

Proses persalinan alhamdulillah juga berjalan dengan lancar. Sekitar sepuluh hari setelah kebanjiran, saya bisa melahirkan di RS yang biasa dikunjungi. Lega rasanya. 

Masuk tahun 2021, media menyampaikan pemberitaan mengenai musibah yang datang silih berganti. Banyak saudara kita yang mengalami kejadian tak terduga. Pesawat Sriwijaya jatuh, banjir di Kalimantan juga Manado, gempa di Mamuju, gunung meletus. Padahal sampai saat ini kita masih mengalami kondisi pandemi.     

Data BPBD menyatakan ada sebanyak 113.420 warga Propindi Kalimantan Selatan yang mengungsi akibat banjir.  

Semua kejadian yang menimpa saat ini membuka mata kita bahwa kita adalah bersaudara. Perlu saling menguatkan dan membantu dalam menghadapi kondisi yang terjadi. Meskipun jaraknya jauh bukan berarti kita menutup mata dan tidak peduli. 

Mereka yang mengalami musibah juga merasakan kesedihan yang jauh lebih dirasakan. Tinggal di pengungsian, makan seadanya dan tidak merasakan kenyamanan seperti sebelumnya.

Setitik kepedulian yang kita berikan akan membuat mereka tetap tersenyum dan kuat menghadapi kondisi yang terjadi. Badai pasti berlalu dan setiap kejadian yang kita alami tentu meninggalkan hikmah kehidupan yang indah. 

Ujian atau Azab

Saat Musibah Datang

Apakah yang semua ini terjadi merupakan ujian? Ya, ujian untuk lebih menguatkan kita dan untuk mengevaluasi apa yang telah kita perbuat. 

Dari Mush’ab bin Sa’id seorang tabi’in dari ayahnya, berkata:

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad Dirimi)

Perlu diakui bahwa sebagai manusia seringkali khilaf akan kehidupan ini. Melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya, seperti membuang sampah sembarangan, kurang menjaga kelestarian alam, juga kurang peduli dengan sesama makhluk Allah. 

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura : 30)

Baca juga :

Penutup

Saat banjir datang mengepung wilayah sekitar kita apa yang mampu dilakukan? Menyesali atau marah dengan kondisi yang terjadi? Tentu tidak. 

Berusaha saling membahu mengatasi kondisi yang terjadi. Tim SAR ditujukan untuk membantu sesama. Bantuan dari relawan datang untuk menguatkan dengan penuh kepedulian. Ya, semua saling bersinergi untuk mengatasi musibah yang sedang dialami. 

Uluran tangan untuk menjalin kebersamaan yang dibutuhkan. Kemudian menata kembali kehidupan dengan niat yang lebih kuat lagi. 

Semua kenikmatan alam ini kita rasakan bersama. Yuk, bersama kita lebih memperhatikan keberlangsungan dan keindahannya dengan sebaik mungkin, agar bisa terus lestari lebih panjang sampai anak keturunan kita. Love negeriku, love Indonesia. 

Salam, 

Share the article :

2 komentar untuk “Banjir Datang Mengepung Wilayah di Sekitar”

  1. Bisa jadi azab bisa jadi ujian ya mbak asih. Semua berpotensi, tapi apapun itu, bencana yang dialami tanah pertiwi ini perlu disyukuri dengan cara memperbaiki diri terus menerus apalagi untuk menjaga alam ini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *