Salam Rindu Bersilaturahmi Saat Lebaran

Tanpa terasa Ramadan sudah memasuki hari yang ke-20, selanjutnya kita akan masuk ke bulan Syawal yang diawali dengan merayakan iduel fitri, tanggal 1-2 Syawal. Di hari raya ini, semua anggota keluarga akan berkumpul bersama untuk bersalaman meminta maaf, berbagi amplop lebaran, makan bersama dan saling bersilaturahmi.

Namun di masa pandemi ini apakah semua itu akan bisa berjalan seperti sebelumnya. Adanya peraturan yang mengikat seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mungkin akan mengurangi ruang gerak kita berarti silaturahmi akan tertunda. Ahhh… Jadi rindu akan masa lalu saat lebaran tiba.

 

Takbir bersama dan salat Ied

Setelah puasa hari terakhir Ramadan, malamnya kita akan bertakbir bersama di masjid, mushola ataupun berkeliling menabuhkan bedug dan kumandang takbir terus bergema sampai esok hari tiba. Tak hanya orang tua saja yang akan ikut menyemarakkan malam ini, tetapi anak-anak juga tidak mau kalah semangat.

Bahkan ada yang mengadakan takbir keliling dengan melibatkan anak-anak juga remaja. Mendengar takbir yang terus berkumandang, rasanya hati ini terasa ikut bergetar. Allahu akbar… Allahu akbar… La ilaha illallahu Allahu Akbar … Allahu akbar wa lillah ilham.

Esok harinya kita akan berkumpul di tanah lapang untuk melaksanakan salat ied. Berbalut pakaian warna-warni nan menawan mulai dari anak-anak sampai dewasa, bersama-sama dari berbagai tempat bersatu menjalankan salah berjamaah. Salat yang di mulai pukul 07.00 kemudian dilanjutkan mendengarkan khutbah.

 

Kebersamaan dengan keluarga

Saat lebaran kita semua berkumpul dengan keluarga tercinta. Jarak yang jauh jadi terasa dekat. Saudara yang dekat juga nun jauh di seberang akan datang. Semua berusaha untuk bisa berkumpul bersama, merayakan hari nan fitri dengan penuh sukaria dengan keluarga tercinta.

Tak peduli berapa budget yang akan di keluarkan, semua diniatkan untuk satu hal, yaitu bersama menguatkan persaudaraan dengan saling memaafkan. Mohon maaf lahir dan batin. Semua kesalahan yang telah lalu dituntaskan hari itu dengan saling membuka diri, mau saling memaafkan dan kita kembali merajut hari-hari yang baru. Tak ada lagi dendam dan amarah di hati. Hanya senyuman yang tersimpul dengan penuh kebahagiaan.

 

Makanan buatan Bunda

Menikmati kebersamaan tidak akan lengkap tanpa adanya sajian istimewa, ya masakan ibunda tercinta. Masakan yang dirindukan dan selalu jadi kesukaan semua anggota keluarga. Di keluarga saya akan tersedia ketupat lebaran, sayur labu, rendang ataupun opor jadi menu special hari itu, tetapi tentu semua keluarga punya menu istimewanya masing-masing.

Ya, serasa nikmat dengan makan bersama dan menikmati sajian yang disuguhkan. Jika tidak ingin makan yang padat, maka bisa menikmati sajian ringan seperti kue kering, buah-buahan ataupun minuman dingin. Silahkan disantap apa yang sudah tersaji di meja. Hari raya ini tidak ada yang berpuasa, jadi semua bisa ikut makan bersama-sama.

 

Bersilaturahmi  dan berbagi amplop lebaran

Tak lengkap bila saat lebaran tidak dilanjutkan dengan bersilaturahmi. Kakak kepada adik ataupun orang muda kepada orang yang lebih tua. Bersilaturahmi akan memuat ikatan jadi semakin kuat. Bila awalnya jarang bertemu, saat lebaran ini jadi bersua. Jalinan yang rumit dan sukar, dengan bersilaturahmi akan menjadi mudah dan akrab. Jarak yang jauh jadi semakin dekat. Bahkan anak-anak yang semula tidak saling mengenal, akhirnya jadi akrab dan bermain bersama.

“Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” ~ HR. Bukhari

Ada  tambahan yang membuat anak-anak semakin bahagia saat di ajak bersilaturahmi, yaitu mendapatkan amplop lebaran. Tak hanya satu atau dua orang yang akan berbagi, tetapi dari tetangga ataupun kerabat juga ikut berbagi rezeki. Amplop pun jadi tambah tebal atau ada yang robek karena uangnya terlalu banyak. Hehe … rezeki anak soleh.

 

Lebaran kali ini terasa berbeda. Sama halnya seperti Ramadan yang terasa sunyi. Tidak bisa salat berjamaah dengan saudara seiman lainnya dan mendengarkan khutbah bersama. Begitupun bersilaturahmi antara tetangga, teman, kerabat juga saudara tertunda. Rindu dengan suasana lebaran seperti sebelumnya.

Semoga pandemi ini segera berlalu. Ada banyak kerinduan yang terpendam. Kami ingin semua bisa kembali normal kembali. Namun, untuk itu kita perlu saling menguatkan dengan terus mengikuti himbauan tim kesehatan, agar apa yang kita harapkan dapat segera jadi nyata.

 

Salam

Share the article :

27 komentar untuk “Salam Rindu Bersilaturahmi Saat Lebaran”

  1. Asiknya silaturahmi Lebaran.
    Saya kebetulan lebarannya di Buenos Aieres Argentina.
    Terdampar di sini karena penerbangan ditutup akibat Covid.
    Untungnya di kunjungi sama Bu Dubes sekaligus ngasi paket lebaran berupa nasi lontong opor ayam dan kue kering. Rasa kangen suasana lebaran di Indonesianya terobati deh. 🙂

  2. Iya mbak. Lebaran kali ini bner2 beda bgt, rasanya kaya ada yg hilang karena nggak bisa kumpul keluarga besar. Tp ya gmn, demi saling menjaga kesehatan kudu rela untuk menahan ego berkumpul dg keluarga ya 🙂

  3. aamiin yaa rabb. Iya mbak, lebaran tuh hari yang selalu dinanti untuk berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga besar di kampung halaman. sebagai keluarga perantau kayak kami ini, momen ini selalu kami tunggu. Qadarullah, tahun ini tak bisa melakukannya karena adanya pandemi Covid-19 (hiks). Semoga masih diberi usia yang barokah untuk dapat bertemu lebaran di tahun depan. aamiin yaa rabb.

    1. Aamiin.
      Meskipun berat kita tetap menikmati hari istimewa ini dengan senyuman di rumah ya Mbak. Semoga kesehatan kita terus terjaga dan tahun depan bisa bersilaturahmi lagi.

  4. Beda banget pokoknya lebaran tahun ini. Aku dan suami aja gak sholat id di lapangan atau masjid. Sy kebetulan lagi haid, tapi biasanya ikut ke lapangan, duduk paling belakang, krn itu sunnah.
    Tp tahun ini di rumah aja, suami sholat id di rumah. Sedih sekali rasanya.
    Smga pandemi ini segera berlalu

  5. Rindu banget dengan lebaran sebelumnya, kangen dg suasananya. Apalagi buat anak-anak yg paling seneng kalau dibagi amplop. Tahun ini pemasukan mereka turun drastis, sempat ketawa saat ada anak yg nyeletuk “ya, dikit banget duitnya. Enggak sebanyak thn lalu.”

  6. Meski Lebaran kali ini berbeda tetap saja istimewa buat saya. Alhamdulillah rezekinya dekat dengan Ibu dan mertua, jadi enggak susah buat silaturahmi. Moga tahun depan Ramadan dan Idulfitri kembali seperti sebelumnya, tanpa khawatir adanya pandemi

  7. Lebaran kali ini sedikit berbeda, kue yang terhidang tidak banyak seperti biasanya. tapi alhamdulillah, banyak orang memakai pakaian syarii dan menggunakan masker. adem lihatnya.

  8. Aamiin aamiin kak. smoga pandemi segera berlalu dan semua kembali sehat, bahagia dan semakin dekat dengan Alloh SWT. Aamiin. terima kasih ulasannya kak , mngingatkn kmbali untuk sll bersyukur dlm kondisi apapun.

  9. Lebaran tahun ini walau tidak bisa mudik dan berkumpul dengan kerabat di kampung, alhamdulillah dapat berkumpul dengan orang tua. Semoga pandemi ini secepatnya berlalu. Amin.

  10. Baca postingan ini jadi sedih Mbak. Bukan apanya cuma karena mengenang ramadan kemarin yang benar2 beda dengan ramadan2 sebelum tapi yah tahun ini emang tahun penuh ujian ya. Dan semoga saja pandemi ini bisa segera berakhir.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *