Lifestyle

Akankah Tetap Mudik Saat Pandemi

Suatu kebiasaan yang dilakukan jelang hari raya adalah mudik ke tanah kelahiran atau berkumpul dengan keluarga besar. Meskipun untuk mudik butuh perjuangan, tetapi setelah sampai di temapat tujuan, rasanya tuh bahagia banget.

Mudik jelang lebaran perlu persiapan yang matang dan biasanya sudah mulai dilakukan sejak jauh-jauh hari seperti membuat anggaran pengeluaran untuk beli tiket, oleh-oleh juga hendak kemana saja selama mudik. Nah, kebayangkan bagaimana ekstranya persiapan untuk mudik. Namun, dibalik persiapan itu semua, ada kebahagiaan tersendiri yang kita dapatkan setelah berkumpul dengan keluarga tercinta. So sweet lah, hehe.

Mudik Yes or No

Mudik tidak ya? Jawabannya tentu ingin mudik. Saat berada di daerah perantauan yang jauh dari keluarga, rasanya tuh sepi sendiri. Apalagi saat merayakan hari raya, kurang seru kalau dirayakan sendirian. Kumpul dan menikmati kebersamaan dengan penuh sukaria tentu sangat membahagiaan.

Ya, bisa melihat langsung semua keluarga sehat, makan bersama dan saling berjabat tangan untuk memohon maaf atas segala kesalahan pada orang tua jadi poin berharga di hari raya. Namun, apa hendak dikata, saat ini ada peraturan baru yang melarang kita untuk mudik. Semua karena datangnya Covid-19.

Sudah beberapa Minggu kita dihimbau untuk #dirumahsaja dengan stay save dan melakukan social distancing, physical distancing, juga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Tak lain dan tak bukan semua ini bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Lalu bagaimana dengan lebaran nanti? Himbauan akan terus dilakukan sampai kondisi ini perlahan mulai membaik.

Karenanya untuk mudik pun jadi tertunda. Memang ada yang tetap memaksakan diri mudik. Itu karena kondisi yang memaksa dan mereka pun langsung melakukan isolasi mandiri selama 14 hari setelah sampai di tujuan. Apakah untuk mudik benar-benar dilarang?

Semuanya tergantung pada diri kita lagi. Bila kita ingin kondisi ini segera berlalu yaitu Covid-19 sirna, maka kita lakukan bersama apa yang menjadi himbauan tim kesehatan. Sebenarnya selama dalam perjalanan pulang, kita tidak dapat memastikan kalau dalam perjalanan semuanya akan aman terkendali. Karenanya lebih baik kita menghindari apa yang tidak diinginkan dengan bersabar hingga sementara waktu.

 

Tiket sudah siap

Sebenarnya saya dan keluarga sudah melakukan perencanaan untuk mudik tahun ini. Niat untuk bisa mudik sudah dipersiapkan sejak jauh hari. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya yang sulit mendapatkan tiket KAI maka tahun ini saya sudah melakukan persiapan sejak bukan Januari dengan harapan tidak kehabisan lagi. Maklumlah yang membeli tiket perlu bersaing dengan yang lain, siap cepat dia dapat.

Begitu penjualan tiket mulai di buka, saya pun sudah mempersiapkan segala suatunya dan langsung melakukan pembelian sesuai jumlah keluarga, yaitu 4 orang. Pembelian berhasil dan sesuai dengan harapan. Namun, sebulan kemudian tiket yang sudah dipersiapkan hanya bisa terpajang di pojok rak buku, tak jadi digunakan dan tiketpun di refund.

 

Mudik yang tertunda

Menikmati kebahagiaan dengan keluarga di hari yang fitri memang berbeda, karena terasa sekali kebersamaannya. Perasaan ini yang membuat kenapa meski sudah dihimbau untuk tidak mudik, masih banyak yang melanggar dan memaksakan dirinya.

Bisa jadi mereka sebenarnya memahami resiko besar yang akan ditanggungnya selama dalam perjalanan pulang ke kampung halaman. Namun, resiko itu terus di tempuh dengan sekuat tenaga dan berharap tidak ada dampak negatif dari perpulangannya. Untuk yang tetap bertahan #dirumahsaja dan menunda kesempatan mudik bukan berarti tidak merasa rindu, tetapi ingin menjaga diri untuk kesehatan semuanya.

 

Mudik lebaran bukan suatu hal yang baru, tetapi sudah menjadi tradisi atau kebiasaan yang kita lakukan jelang hari raya. Menikmati kebersamaan dengan keluarga menjadi tujuan utamanya. Meski untuk itu diperlukan perjuangan sekuat tenaga. Ada yang kesulitan mendapatkan tiket, bepergian dengan dana yang terbatas, masa cuti yang sempit, dll. Apapun kendala yang dihadapi, tidak akan menyurutkan niat itu.

Namun, saat ini kondisi berkata lain. Ada hal serius yang perlu kita perhatikan sehingga ada yang perlu bersabar dengan menunda keinginan mudik. Pupus sesaat harapan itu, dan nantinya akan diwujudkan setelah semua kondisi ini membaik. Saat Covid-19 telah sirna.

 

Salam.

Tentang Penulis

About Asih Mufisya

Motherhood blogger dan mencintai dunia literasi juga suka baking yang simple.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *