Literasi

Review Book : Tingwe Sang Gadis Kretek

Gadis Kretek

Hello… Welcome bulan September. Tidak terasa ya sudah jelang akhir tahun 2020. Awal bulan September ini, saya dapat mention dari teman IG, Mbak Yenny, yang mengundang saya untuk ikutan event Reading Challenge with @difidiffofficial. Rasanya kaget juga pagi-pagi dapat undangan spesial ini. Duh, buat review book tema fiction historical. Penasaran dengan undangan ini, lalu saya telusuri informasinya dan akhirnya memutuskan diri untuk ikutan deh. 

Review Book Tema Fiction Historical 

Kenapa jadi ikutan? Tantangan buku yang dibaca cukup menarik, tema fiction historical, fiksi sejarah. Langsunglah cari buku apa saja sih yang sesuai dengan tema ini. Ternyata banyak juga buku yang menarik seperti beberapa karangan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Leila S. Chudori, Laksmi Pamuntjak, Ayu Utami, Ratih Kumala, Okky Madasari, dan penulis lainnya.  

Setelah menjelajah dan melihat buku-buku fiksi sejarah, akhirnya saya menentukan pilihan pada buku satu ini. Judul dan covernya kelihatan tampil beda, jadi agak menggoda dan bikin penasaran. Saya segera meluncur ke aplikasi iPusnas untuk mendapatkan ebook yang diinginkan dan alhamdulillah berhasil di pinjam. 

Review Book Fiction Historical

  

Judul             : Gadis Kretek

Penulis          : Ratih Kumala

Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan         : Pertama, Maret 2012

Tebal              : 275 halaman

ISBN              : 978-979-22-8141-5

 

Bab awal novel ini berjudul “Jeng Yah” dan menjadi pemeran utama dalam tokoh novel ini. Namun, pemeran utama ini tidak langsung hadir dalam alur ceritanya. Jeng Yah menjadi generasi kedua dari lakon ini. Ya, novel ini memang mengisahkan tiga generasi. 

Meski dengan rentang waktu generasi yang panjang, tidak membuat pembacanya jadi bosan saat menikmati lembar demi lembar, karena penulis mampu menyajikannya dengan  begitu apik dan tertata rapi sehingga alur ceritanya jelas dan mengalir. Tebalnya novel ini pun tidak terasa, karena rasa penasaran dari kisah yang dihadirkan. 

Kisah bagaimana lahirnya sosok Jeng Yah menjadi latar belakang novel ini. Sebelum kemerdekaan nama klobot lebih dikenal orang, dan banyak yang menjadi pelinting klobot termasuk masa muda ayah Jeng Yah, Idroes Moeria. Garis kemiskinan yang dialaminya tidak membuat Idroes Moeria putus asa, sehingga tekadnya bulat untuk memutus kemiskinan ini agar anak keturunannya dapat hidup lebih sejahtera. 

Terus berusaha dengan gigih memang tidak mudah, terkadang ada batu sandungan yang datang menerpa kehidupan ini. Teman semasa kecilnya yang hidup bersama ternyata menjadi lawan saingnya, ditambah dengan masa-masa penjajahan. Setelah menikahi gadis pujaannya Roemaisa, tekad Idroes Moeria untuk mengembangkan usaha klobotnya makin besar. 

Disaat klobot hasil buatannya mulai terlihat berkembang, Jepang datang menjajah dan terjadi penculikan pemuda-pemuda untuk diikutsertakan dalam misi Jepang, menjadi tenaga kerja paksa di Soerabaia. Idroes Moeria, salah satu yang pemudah yang diculik Jepang dan selama dua tahun dipenjara. 

Selama dalam tahanan ternyata Idroes Moeria mendapatkan banyak pelajaran, salah satunya bagaimana mengembangkan usaha yang dirintisnya. Kembalinya pulang ke rumah menjadikan semangatnya bertambah. Klobot yang dirintisnya dikembangkan kembali, bahkan mengalami perubahan bentuk mulai dari formulanya sampai kemasan. Nama klobot mengalami perubahan karena perkembangan zaman, sehingga berganti dengan kretek. 

Formula tingwe ditambahkan saus sehingga rasanya menjadi lebih enak. Begitupun kemasan dibuat menarik dengan nama yang menterang. Usaha yang dirintis  Idroes Moeria tidaklah berkembang dengan mudah, karena pesaingnya Djagat juga terus mengikuti jejak langkahnya dan tak ingin ditandingi. 

Lahirnya Jeng Yah menjadi pendobrak perkembangan kretek. Bagaimana tidak, sosoknya bagaikan Roro Mendut yang mempunyai daya tarik tersendiri, yaitu mampu menghasilkan kretek yang tidak ada banding. Hasil kretek yang awalnya hanya diperuntukkan buat ayah tercinta, Idroes Moeria, kemudian dikembangkan dengan formula hasil kreasinya hingga mampu dipasarkan lebih meluas dengan nama Kretek Gadis. 

Namun, tidak selamanya kondisi yang terjadi dapat berjalan sesuai keinginan. Majunya perkembangan Kretek Gadis secara perlahan mengalami perubahan setelah Jeng Yah bertemu dengan pemuda pujaannya, Soedjagat dan terjadinya aksi PKI di kala itu. 

Baca juga : Review buku Ibuk : Keberhasilan seorang anak tak lepas dari doa ibu.

Review Book yang Menarik diBaca 

Novel yang mengangkat kisah sejarah memang jarang, termasuk saya yang juga lebih sering membaca fiksi jenis lain. Namun setelah membaca novel ini, saya jadi tertarik dengan tema sejarah lainnya. 

Secara keseluruhan novel ini mampu memberikan daya tarik sejarah yang mengesankan, dengan alur ceritanya yang jelas dan pemulihan kata yang apik. Penulisan beberapa katanya juga disesuaikan kondisi masa itu seperti nama beberapa peran di dalamnya Idroes Moeria, Soedjagat, nama kota Soerabaia juga adanya bahasa Jawa yang dituangkan dalam percakapan. 

Alur ceritanya yang penuh intrik mulai dari kisah cinta segitiga, perjuangan kehidupan masa penjajahan, juga proses jatuh berkembangnya usaha kretek membuat novel ini layak untuk dibaca karena mampu memberikan inspirasi bagaimana proses sebuah perjuangan. Berjuang bukan hanya dengan menggunakan bambu runcing, tetapi juga bagaimana kita berjuang untuk menguatkan semangat diri. 

Mempunyai motivasi yang kuat untuk meraih cita-cita dan harapan tentu diperlukan dalam meraih apa yang kita inginkan agar tidak hanya menjadi impian semata. Saat jatuh mampu tetap terus bertahan, dan terus menggali apa kekurangan diri agar bisa diperbaiki dan menjadi lebih baik lagi. 

Sulit bagi saya menemukan apa kekurangan dari novel ini. Meski memang belum sempurna, tetapi saya merasa benar-benar terbawa suasana dalam kisah yang disajikan. Bahkan setelah merenungkan sesaat, saya justru bertanya-tanya berapa lamakah proses pembuatan novel ini dan riset apa saja yang dilakukan penulisnya. Selanjutnya review book fiction historical apa lagi yang akan saya baca ya?

“Kretek Gadis

Sekali isep, gadis yang Tuan impikan muncul dihadepan Tuan.” (Hal. 151)

 

Salam,

Tentang Penulis

About Asih Mufisya

Motherhood blogger dan mencintai dunia literasi juga suka baking yang simple.

(12) Komentar

  1. Penasaran juga ini dengan buku ini. Jarang-jarang baca buku sejarah seperti ini. Tapi kok males carinya ya.. Yaelahh 😂

  2. Wah buku yang berat namun serrruuuu ya Mba untuk dibaca, memuat nilai sejarah juga. Sayang sudah berbulan bulan I dont have chance to read a book, I should start!

  3. Saya pernah baca resensi dari blogger lain, disitu dan baca artikel mba tetap merasa premisnya menarik. Setting nya soalnya Indonesia jadul ya

  4. baru tahu lho novel fiksi sejarah itu, menarik juga ya Mbak.
    jadi belajar sejarah dengan cara lain ceritanya ini ya.

  5. Sepertinya seru
    Cerita dengan latar sejarah selalu menarik untuk saya

  6. aku udah lama banget gak baca novel mbak. sekarang lebih suka baca buku non fiksi

  7. Banyak loh mbak novel yang mengangkat kisah sejarah. Aku penasaran dari lama sama novel ini belum sempat baca. Makasih reviewnya…

  8. pas pertama baca judulnya saya sudah langsung tertarik gitu kak, penuh dengan pesan moral ya. Saya suka baca novel tentang sejarah selama dikemasnya menarik dan saya bisa nagih baca lagi bisa beberapa kali. APalagi kalau yang dibahas urusan perempuan saya suka, banyak belajar biasanya dari cerita-cerita mereka

  9. Wah, bukunya menarik Mbak. Sejarah kretek di Indonesia bisa jadi dari situ juga ya? membaca novel sejarah secara nggak langsung kita belajar sejarah bangsa kita juga.

  10. Sebelum membaca review di sini saya sudah sempat membaca sekilas saja sinopsisnya di akun yg merekomendasikan novel-novel sejarah. Secara garis besar saya paham latar belakang novel ini, tapi baru sekarang lebih tahu kalau Jeng Yah ini bukan generasi pertama pembuat kretek. Overall reviewnya mudah dipahami dan membuat saya semakin tertarik untuk mencari bukunya.

  11. Wahhh, bagus banget ini mba jalan ceritanya. Kebetulan aku emang suka banget sama buku sastra roman gitu. Apalagi kayak historical fiction gini, bikin nagih buat dibaca

  12. Kalau daku sebenernya suka novel berdasarkan sejarah, jadi lebih terasa mendalam dan bisa ikut terbawa suasana juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *