Raih Keberkahan dengan Channel Inspirasi Keluarga

Assalamualaikum. Jelang berbuka puasa, biasanya apa sih yang kamu lihat? Apakah masih berkutat di dapur untuk menyiapkan sajian berbuka? Tentu sudah ada yang siap di layar TV juga kan? Saat bulan Ramadhan yang paling dinantikan tentunya azan Maghrib, iya kan.  Hehe.

Namun, sebelum azan berkumandang, anak-anak atau semua anggota keluarga biasanya sudah siap di depan layar magic ini. Ada yang melihat film animasi anak, mendengarkan qultum, atau nonton channel kesayangan.

 

Tayangan favorit

Setiap keluarga tentu mempunyai tayangan favoritnya masing-masing. dan ada alasan kenapa suka dengan tayangan tersebut. Nah, untuk keluarga saya, yang paling di suka adalah tayangan Tahfiz Quran. Tayangan ini hadir melalui stasiun TV RCTI, sekitar jam 15.20 WIB. Jam tayangnya memang masih cukup jauh dengan waktu berbuka, jadi bikin kita menyimak dengan nyaman.

Sekilas terlihat tayangan ini lebih ditujukan untuk anak-anak. Namun, setelah melihat lebih dekat dan dalam, tayangan ini bisa disimak juga untuk semua usia, mulai dari anak-anak sampai kakek nenek. Anak-anak yang ikut berasal dari seluruh propinsi di negeri tercinta ini, dengan latar belakang yang berbeda. Anak-anak yang hadir bukan untuk bertarung memperebutkan hadiah, tetapi ingin berbagi semangat kepada teman-teman seusianya, agar bisa ikut termotivasi dan ikut belajar menghafalkan Al Quran.

Awalnya jumlah pesertanya banyak, tetapi saat ini semakin berkurang karena setiap harinya akan ada proses eliminasi, hingga nantinya pemenang berjumlah 3 anak. Meski begitu tidak membuat anak-anak ini berkecil hati. Bahkan saat proses eliminasi, anak-anak tersebut di tanya, apakah mereka tidak menyesal jika nantinya harus pulang? Tidak, karena sejak di karantina dalam Hafiz Quran ini sudah mendapatkan banyak pelajaran yang berharga juga tambah persaudaraan.

“Orang-orang yang hebat dalam membaca Al-Qur’an akan selalu ditemani para malaikat pencatat  yang paling dimuliakan dan taat pada Allah SWT  dan orang-orang yang terbata-bata membaca Al-Qur’an lalu bersusah payah mempelajarinya maka dia akan mendapatkan dua kali pahala,” (HR. Bukhari)

Pexels

 

Tahfiz Quran

Tahfiz Quran yang sudah masuk ke delapan tahun ini,  mampu memberikan edukasi pada anak-anak untuk semakin mencintai kitab suci Al Quran. Anak-anak yang ikut dalam audisi ini usianya masih sangatlah belia, usia terkecil tahun ini adalah 4 tahun bernama Bahira asal Karo Sumatera Utara,  yang sudah mampu menghafal sebanyak 9 juz. Kemampuannya membaca dan menghafal al quran sejak usianya 2,8 tahun.

Sebenarnya melihat tayangan ini membuat saya pribadi menjadi malu. Anak-anak yang masih belia itu begitu bersemangat untuk menjaga al quran dengan hafalan mereka sehingga jiwa mereka di penuhi dengan ayat-ayat Allah. Bahkan dijanjikan pula kalau  mereka nantinya akan memakaikan mahkota kemuliaan untuk orang tua mereka di surga-Nya kelak.

Kisah yang menginspirasi

Ada banyak kisah inspirasi dari tayangan Hafiz Quran ini. Mulai dari anak-anak cerdas yang sudah hafal beberapa juz juga para tim jurinya. Hari itu saat saya nonton Hafiz Quran, Abi Amir Faisol Fath, bercerita mengenai pengalaman hidupnya. Beliau adalah mubaligh ahli tafsir Al Quran. Bukan hal yang mudah mendapatkan predikat seperti yang saat ini beliau dapatkan, tetapi dengan perjuangan tentunya.

Suatu ketika, Abi melihat bagaimana sosok seorang ulama di kampungnya, setiap ada anak yang baru lahir diminta untuk mengazani, begitupun saat ada yang meninggal, ulama ini juga di minta untuk membantu proses pemakamannya. Terbersit dalam benak Abi, betapa mulianya ulama ini. Membantu membuka kehidupan seorang anak dengan melafazkan azan juga menemani saat kehidupan seseorang berakhir.

Apa yang dilihat Abi dalam ulama tersebut membuatnya menjadi kagum dan berniat ingin mengikuti jejak beliau, sehingga memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke pondok. Namun, apa daya, kondisi keluarga beliau kala itu kurang mendukung, keterbatasan ekonomi.

Meski begitu tidak membuat Abi putus asa. Beliau tetap pergi ke pondok dan mencoba mendaftarkan diri di sana, tetapi karena tidak didampingi orang tuanya, maka beliau mencoba meminta bantuan pada orang tua anak lain yang sudah mendaftar dan akhirnya di bantu oleh seorang bapak.

Selama melalui proses pendidikan di pondok, orang tua tidak dapat memberikan pemenuhan kebutuhan sepenuhnya sehingga Abi berjuang dengan menjadi tukang cuci dan masak untuk temannya hingga lulus. Tekad untuk terus maju tak membuat semangatnya putus sampai di sini. Abi tetap bertekad ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan akhirnya meminta bantuan kepada ustad pondok untuk membantunya.

Semangat dan keinginan ini Abi sampaikan kepada sang ibu dan mengharapkan restunya dengan meminta ibu untuk mengecup kening Abi. Semangat untuk meraih impian itupun berhasil dan Abi melanjutkan pendidikan ke Pakistan, Internasional Islamic University Islamabad IIUI. Lulus S-1 ternyata Abi masih belum memiliki bekal yang cukup, kemudian melanjutkan kembali ke S-2. Setelah lulus S-2 masih belum memiliki biaya yang cukup, kemudian melanjutkan S-3, dan dilanjutkan menjadi dosen di dua universitas di sana. Setelah biaya untuk kembali pulang sudah mencukupi, Abi pun pulang ke tanah air dan mengabdikan ilmunya di tanah tercinta.

Anak-anak memiliki jiwa yang polos, tanpa ada cacat sedikitpun. Jiwa kecil yang akan terus tumbuh dan di bentuk serta di tempa oleh orang tua, lingkungan dan perjalanan kehidupannya. Anugerah tak terkira jikalau kita sebagai orang tua mampu memberikan landasan agama yang kuat sejak dini pada buah hati tercinta kita.

Budi pekerti baik dan pondasi agama (aqidah dan keimanan) yang mereka dapatkan nantinya akan membentuk karakter mereka di masa depan. Tak ada yang tahu akan bagaimana diri kita nanti, termasuk juga anak-anak. Namun, harapan semua orang tua adalah sama, yaitu ingin anak-anak tumbuh sehat juga sukses dan bisa meraih apa yang mereka harapkan kelak. Ibu menjadi bagian terpenting dalam pembentukan jiwa seorang anak. Ridho orang tua, khususnya Ibu menjadi kekuatan besar dalam perjalanan seorang anak.

 

Salam

 

Referensi : www.dakwatuna.com/author/dr-amir-faishal

  

Share the article :

26 komentar untuk “Raih Keberkahan dengan Channel Inspirasi Keluarga”

  1. Akh senangnya kalau dari kecil anak anak sudah punya jiwa kompetisi yang baik ya karena namanya lomba harus ada kalah dan menang. Luar biasa ini kak pelajarannya. Pendidikan dasar anak yang nggak boleh hilang pun saat anak makin besar…

  2. Saya selalu teringat hafidz beberapa tahun lalu, Musa. Sekarang ia belajar di Arab Saudi. Dan saya belum dapat kabar terkininya. Juga ada banyak inspirasi dari Hafidz Hafidzah lainnya yg beneran bikin saya malu. Saya lebih banyak pegang hp daripada baca Al Quran. Ada banyak teman yg memilih Nonton drakor berjam-jam daripada membaca beberapa juz setiap harinya…

  3. Penting sih menyajikan tontonan berkualitas dan sesuai kaidah terutama buat anak anak karena mereka penitu yang handal. pondasi agama (aqidah dan keimanan) adalah hal mutlak yang mesti disiapkan orang tua

  4. Waktu dan kesempatan yang ada digunakan sebaik-baiknya untuk menambah keimanan, wawasan dan menggali potensi diri tentu saja. Bersyukur ada berbagai kemudahan teknologi di masa pandemi seperti ini ya. Tetap semangat menebar kebaikan, semoga semua sehat-sehat ya..

  5. Dari tahun ke tahun hafiz Indonesia ini jadi siaran tv yang paling saya tunggu saat ramadhan..banyak inspirasi dan membuat kita semangat mencintai AlQuran

  6. Mutia Ramadhani

    Channel-channel kayak gini nih yang harus dibanyakin untuk tontonan keluarga. Duh kasihan anak-anak sekarang udah nonton sinetron gak jelas gitu ya mba. Apalagi sekarang Ramadhan, waktunya kita juga menyaring tontonan keluarga di rumah supaya kualitas ibadah tetap terjaga,

  7. lagi bulan ramadan begini emang paling bener ya menonton hal-hal yang bermanfaat seperti ini. supaya kita juga semakin semangat beribadah, meski di rumah aja. makasih mba sharingnya.

  8. Iya Mbak kami nonton yang Tahfidz ini tapi kalau udah mau 30 menit bilang buka dipindahin ke channel lokal jadi tahu kapan waktu berbuka nya

  9. Terharu rasanya melihat anak-anak yang sudah hafidz hafidzah. Kadang aku nyesel kenapa nggak sejak dulu belajar agama dengan lebih baik. Andai ya, tentu saat mengandung, anak-anak sudah terbiasa kuperkenalkan dengan Al Qur’an. Sayangnya, justru malah aku banyak dengerin lagu-lagu.

    Sekarang, aku yang belajar ke mereka. Hapalan pun didengarkan dan dikoreksi oleh anak sulung. MasyaAllah, kelas IV SD tapi sudah menjadi guru buat ibunya.

  10. Betul jiwa anak yg masih polos dan bersih sebaiknya diisi dengan dukungan moril yang baik2 untuk diajarkan yah, biar senantiasa diingat ketika berproses tumbuh 🙂

  11. Aluna dan kenzio

    Massya allah mbak tulisan sangat menginspirasi sekali dan bermanfaat buat kita para orang tua.

  12. Pingback: Menikmati Pandemi Bersama Channel Favorit - UmmiSyifa.com

Komentar ditutup.