Cinta Ramadan Saat Pandemi

Marhaban ya Ramadan.

Ramadan yang dinanti Alhamdulillah telah tiba. Namun Ramadan kali ini berbeda dengan tahun biasanya, kenapa? Tentu karena saat ini kita sedang mengalami pandemi Covid-19.  Apakah yang kita rasakan sama?

Pastinya semua merasakan hal yang sama. Ramadan kali ini terasa sunyi, tidak semarak seperti sebelumnya. Ahhh … Jadi rindu maraknya suasana saat Ramadan dan ingin seperti tahun sebelumnya. Penuh dengan takbir, sholawatan juga lantunan ayat suci. Masya Allah masa itu.

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

 

Ramadan yang sepi

Ini yang sangat dirasakan pada Ramadan tahun ini. Gema takbir yang biasanya saling sahut menyahut, tetapi sekarang agak sunyi karena untuk sementara waktu masjid tidak bisa digunakan untuk salat berjamaah. Salat yang biasanya dilakukan bersama-sama, saat ini hanya dilakukan #dirumahsaja, bersama dengan keluarga atau sendiri.

Pagi hari biasanya terdengar suara panggilan untuk segera sahur, sekarang mengandalkan alarm. Anak-anak yang biasanya berlarian untuk segera ikut salat tarawih dan berteriak bersama saat mengucapkan ‘aamiin’ sekarang tidak terdengar juga pulang bersama-sama selesai salat tarawih, saat ini sunyi.

 

Ngabuburit berganti #dirumahsaja

Stay safe terus dilakukan sehingga meskipun sudah memasuki bulan Ramadan, masih tetap #dirumahsaja. Biasanya menjelang buka puasa, akan ada banyak orang yang berjualan dan mencari takjil, tetapi kali ini suasana itu kurang terlihat. Memang masih ada yang berjualan, tetapi tidak sebanyak seperti sebelumnya.

Sebagian besar tetap menjaga diri dengan #dirumahsaja, pun termasuk menyiapkan menu takjil sendiri. Tak lagi dengan menu-menu yang sebelumnya tersaji, tetapi meramu hasil buatan Bunda tercinta di rumah. Bukan dengan menu yang mahal, tetapi bisa dengan bahan yang murah dan hasilnya tetap nikmat, bahkan bisa kita variasikan juga.

Ibu setia membuat kreasi yang berbeda dari hari ke hari, baik di buat sendiri ataupun bekerja sama dengan anggota keluarga sehingga makin terasa seru dan menyenangkan. Buat sendiri dan dinikmati bersama-sama. Tak perlu memandang bagaimana bentuk yang dihasilkan, yang penting bisa merasakan kebersamaan dan kebahagiaan. Ahhh … Serunya.

 

Ramadan, tak salat berjamaah

Jelang Ramadan biasanya anak-anak akan keliling dengan membawa obor untuk memberikan kemeriahan akan datang bulan suci ini. Ya, bentuk ungkapan akan kebahagiaan datangnya bulan ini. Bulan yang selalu kita nantikan karena penuh dengan keberkahan dan ampunan.

Namun, saat ini tidak ada momen itu karena kita sedang melakukan social distancing. Menjaga jarak antara satu dengan lainnya. Begitupun dengan salat berjamaah baik untuk salat lima waktu juga tarawih. Biasanya setelah berbuka, jelang salat Isya kita akan berbondong-bondong datang ke masjid untuk menunaikan ibadah bersama-sama.

Berbaur bersama dengan sesama muslim dalam rumah Allah, masjid, untuk beribadah dan berdoa.  Menunaikan salat tarawih dan witir berjamaah. Lagi-lagi ibadah ini tidak bisa dilakukan bersama, tetapi tetap dilakukan #dirumahsaja bersama keluarga.

 

Ya Allah, kami bersyukur dapat dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun ini, meskipun dengan kondisi yang berbeda. Tidak bisa meramaikan dan mengisi waktu di rumah-Mu. Namun, kami yakin semua yang terjadi adalah atas kuasa-Mu dan semuanya akan memberikan hikmah yang indah.

Ramadan yang berbeda. Semua kebiasaan yang pernah kita lakukan sebelumnya, saat ini jadi beda dan dirindukan. #dirumahsaja yang membuat semuanya jadi terasa berbeda. Namun, semua ini mempunyai tujuan yang jelas, yaitu memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Ingin, semua kondisi ini segera berakhir, maka kita terus berjuang bersama melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Ramadan yang berbeda. Jika ingat masa sebelumnya, ingin rasanya semua bisa di putar ulang kembali. Kita bisa merasakan Ramadan seperti sebelumnya. Penuh kesyahduan,  bisa salat berjamaah, i’tikaf, tadarusan, bukber, dan berlari bersama untuk tarawih.

Namun, bukan hal yang terbaik jika menjalani kehidupan dengan mengeluh, karena Allah SWT memberikan semua kejadian dengan meninggalkan hikmah tersendiri untuk kita. Meski tidak bisa melakukan ibadah dengan berjamaah, tetapi dengan #dirumahsaja tetap bisa dilakukan maksimal, terus meningkatkan kedekatan kita dengan Allah SWT.

Ya Allah, semua yang terjadi adalah atas kehendak-Mu, bantulah kami menghadapi semua ini dengan lapang dada dan terus berusaha semaksimal mungkin, agar segalanya dapat segera teratasi.

Ya Allah, kami adalah hamba-Mu yang lemah, yang selalu mengharapkan bantuan dan keridhoan-Mu. Maka bimbinglah kami. Dekatkan kami selalu dengan-Mu agar terus merasakan cinta kasih-Mu ya Rabb. Aamiin.

 

Salam.

Share the article :

45 komentar untuk “Cinta Ramadan Saat Pandemi”

  1. Sedihnya tiap lewat depan masjid cuma bisa batin, kapan bisa mampir? Kapan bisa euforia ramenya silaturahim bareng, ngga cuma lewat zoom.

  2. Sebenarnya jauh lebih baik ramadhan ini, karena di hindarkan dari acara bukber yang kadang gak jelas, di hindarkan dari ke mall karena biasanya ke mall kalau udah akhir-akhir begini . Cuma sedihnya gak bisa tarawih di mesjid . Semoga pandemi berlalu aamiin

  3. Setiap doa yang mba tulis, aku aamiin kan. Sedih rasanya, kayak mimpi buruk yang ngga udah2. Mudah-mudahan Ramadan tahun depan bisa lebih baik lagi ya mba. Lebih tenang, lebih bersyukur pandemi ngga datang lagi. Aamiin

  4. Udah lebih hampir 2 bln stay at home. Katanya kalo udah 21 hari lebih kata pakar udah menyesuaikan hehe
    Bener sih, tar pas kelar pandemi jd nyesuaikan lagi. Amiin moga segera berakhir pandemi covid19 ini

  5. Kangen ya mba, pas kita tarawih trus anak-anak kecil itu teria bilang “Aaaaaaamiiiiiiin.” Hahahahaha. Lucu sendiri kalo saya ingat2. Iya emang, Ramadhan tahun ini sepi, tapi semoga tak mengurangi kualitas ibadah kita ya mba.

  6. Membacanya sungguh buat mata berkaca-kaca. Ramadhan kali ini memang benar penuh ujian.

    Tak ada adik-adik yang balapan baca amin dan mereka yang bangun dini hari untuk teriak sahur di sekeliling komplek.

    Semoga ujian ini bisa diselesaikan dengan baik dan keadaan kembali pulih.

  7. Ramadhan tahun ini penuh keprihatinan ya kak tapi semoga kita semua tetap istiqomah menjalankan ramdhan dan semoga pandemi ini cepat berlalu ya..

  8. tapi ngerasa gak sih kak, kalo ramadan sekarang ini lebih intens sama keluarga dan enggak sibuk mikirin bukber. entah bukber sama temen-temen atau keluarga besar. bener2 fokus sama keluarga sekarang aja, suami dan anak-anak. saya merasa banyak hikmah banget di tengah pandemi ini. Masyaallah

  9. Bener-bener ga enak bulan Ramadhan tahun ini jadi kurang greget, biasanya mengejar malam-malam ganjil ke masjid yang beda-beda , itikaf ,dengar kajian yang bikin nangis malam qiyamul lail selalu nunggu imam masjid dari Madinah. ini yang buat ga seindah tahun sebelumnya , semoga tahun depan Ramadhan masih di izinkan untuk bertemu Ramadhan kembali, Aamiin.

  10. Ramadhan yang berbeda. Hanya ada suara adzan dan kentongan keliling dari anak muda di waktu jelang makan sahur. Sudah itu aja. Nggak ada riuhnya suara anak yang berlarian di mesjid kala Tarawih, membacakan sholat, khutbah, saling tegur sapa dengan sesama jemaah, dan tadarusan dari speaker masjid.

    Sepiii … Tadarusan hanya berasal dari dalam rumah. Nggak enak. Kehilangan yang luar biasa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *