Literasi

Cerbung : Kenangan Masa Itu – 1

Cerbung (Sumber : Pixabay)


Taman bermain ini begitu hijau dan menyegarkan. Tanaman hijau terlihat tumbuh rapi dan menari-nari tertiup angin. Sore ini taman bermain terlihat ramai dengan anak-anak dan orang tuanya. Ya, semuanya begitu ceria. Ada anak-anak yang bermain perosotan, menaiki tangga, bermain ayunan, jungkat jungkit bahkan ada yang berlari berkejaran mencari temannya.

Aku menikmati suasana sore ini. Mira terlihat memegang tangan Bagas yang ingin menaiki tangga mengikuti gerakan kakaknya, Lita.

“Kakak pelan-pelan ya, Ante Mira tunggu disana, nanti kalau mau minum ke tempat ante ya Kak,” jelas Mira pada Lita, keponakannya.

Lita pun mengangguk dan Mira langsung meninggalkannya.

Mira mempunyai dua keponakan kecil, yaitu Lita yang usianya 5 tahun dan Bagas usia 2 tahun. Di sela-sela harinya Mira membantu mengasuh kedua keponakan kecilnya, seperti ahad sore ini. Arena bermain buka dari pagi hingga sore menjelang maghrib. Setelah ashar, pengunjungnya semakin banyak karena arena permainan anak yang jenisnya menarik sudah mulai di buka mulai dari jam 15.00.

Sejak masuk arena bermain, Lita langsung meminta Mira ke arena perosotan. Meskipun ramai, tetapi Lita tetap mengerti bahwa untuk bermain dia harus antre dengan teman yang lainnya. Berbeda halnya dengan Bagas yang baru berusia 2 tahun, dia di ajak ke arena yang aman bermain di sekitar aula taman. Berjalan berkeliling sambil bermain balon yang tadi sempat dibelinya di jalan.

“Mir, sepertinya kamu sudah cocok kalau punya anak, tuh liat, banyak lho yang menyangka itu anakmu,” godaku sambil mengawasi Mira yang sedang sibuk menyuapi Bagas.

“Enak saja kamu bilang begitu Nin. Aku belum siap menikah, kamu dulu saja sana. Bukannya kamu juga sudah serius dengan Irfan,” jawab Mira dengan balik menggodaku.

“Apa Irfan, dari mana kamu mendapat berita burung itu,” jawabku.

“Masa sih itu berita burung, bukannya benar adanya. Lagian juga tak apa kok, kalian cocok, pasangan serasilah, sudah jangan di buat lama. Ingat lho niat baik itu sebaiknya disegerakan. Kamu tidak takut Irfan di ambil orang,” goda Mira lagi.

“Irfan itu hanya sahabat, tidak ada yang lain. Lagian aku juga merasa biasa saja kok dengannya atau mungkin kamu yang punya hati dengannya. Nanti ku kenalkan dengannya ya, “ jelasku dan berusaha meyakinkan bahwa antara aku dengan Irfan tidak ada apa-apa, hanya sebatas teman saja.

“Tidak Nina, aku tidak ingin diperkenalkan dengannya, tahu orangnya saja tidak, bagaimana aku bisa menaruh hati dengannya. Kabar kedekatan kamu dengan Irfan sebenarnya sudah jadi pembicaraan teman-teman, jadi aku bisa tahu deh,” jelas Mira.

Sontak aku kaget. Masa sih pertemananku dengan Irfan menjadi perbincangan? Kenapa aku tidak menyadarinya? Padahal aku dan Irfan tidak sering mengobrol, hanya sesekali saja. Itupun disaat aku memang benar-benar tidak mengerti akan mata kuliah fisika saja. Mata kuliah ini benar-benar bikin aku pusing, tetapi saat mendapat kan penjelasan rinci dan jelas dari Irfan, aku justru bisa mengerti.

“Sudahlah Nin, tidak usah dipikirkan. Kalau benar tak apalah berita itu karena berarti doa supaya kalian lancar, tapi jika tidak benar, berarti kalian harus berhati-hati saat sedang berduaan. Ingat yang ke tiga ada siapa lho,” jelas Mira sambil memandangku dan tersenyum menggoda.

“Ah kamu nih Mir. Masa sih kamu tidak percaya. Aku hanya sekedar minta tolong saja sama Irfan, tidak ada maksud lain kok,” jawabku lagi menjelaskan.

“Apa percaya padamu? ooo Nina.. itu namanya musyrik donk,” jawab Mira sambil tertanya senang.
Hahaha … Kamipun tertawa bersama.

Sore semakin menjelang dan anak-anak yang bermain pun terlihat mulai berkurang. Aku segera mengajak Mira pulang karena waktu maghrib segera menjelang. Jarak tempuh dari taman bermain ke rumah sekitar 1 km. Cukup lumayan, tetapi jarak itu tidak terasa jauh saat kami lalui. Lita dan Bagas pun tertawa riang selama dalam perjalanan pulang. Bekal yang tadi di bawa Bagas juga sudah ludes, tak tersisa sedikitpun. Mira berhasil membujuknya hingga nasi yang dibawa habis bersih.


*Next episode 2*

Tentang Penulis

About Asih Mufisya

Motherhood blogger dan mencintai dunia literasi juga suka baking yang simple.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *