Benarkah Penyakit Kusta Menakutkan

Benarkah Penyakit Kusta Menakutkan, Ini Faktanya

Ħăi … Apa yang ada dalam benakmu saat mendengar penyakit kusta? Kalau saya sendiri awalnya merasa gimana gitu, karena belum tahu betul tentang penyakit ini. Ternyata penyakit ini masih ada, lho. Selain itu juga ada yang berpikiran bahwa penyakit ini adalah kutukan. Namun, benarkah penyakit kusta menakutkan dan penderitanya perlu dijauhi. 

Lalu bagaimana dengan penyakit lainnya, seperti kanker, AIDS, dan penyakit lainnya. Bukankah semua penyakit karena virus, atau bakteri, dan seiring perkembangan zaman akan ada obatnya untuk penanggulangan penyakit tersebut. Inilah fakta selengkapnya.

Mengenal Lebih Dekat Penyakit Kusta

Sejak datang Covid-19, kita semua terfokus pada virus ini. Mencari tahu bagaimana penanganannya juga cara kita menjaga diri dari virus corona. Padahal masih ada jenis penyakit lain yang perlu mendapatkan perhatian. Salah satunya penyakit kusta. 

Sejarah dan Gejala Kusta

Penyakit kusta atau dikenal dengan lepra sebenarnya sudah dikenal, yaitu hampir 2000 tahun sebelum Masehi. Merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae. Bakteri ini akan menyerang berbagai bagian tubuh seperti kulit, saraf, mata, jaringan saraf perifer dan mukosa saluran pernafasan atas. (WHO, 2019)

Beberapa gejala dari penyakit kusta, antara lain :

  • Timbul benjolan simetris pada kedua sisi tubuh.
  • Terjadi penumpukan kerak pada selaput hidung dan mengakibatkan penderita sulit bernafas atau terjadi mimisan.
  • Terjadi perdarahan dan radang mata.
  • Kelemahan otot.
  • Bagian kaku, tangan juga paha terasa baal atau mengalami mati rasa baik terhadap perubahan suhu, rasa sakit, sentuhan juga tekanan.
  • Luka di bagian tangan.
  • Penurunan berat badan.
  • Timbul bisul, tetapi penderita tidak merasakan sakit. 

Gejala dari penyakit ini tidaklah muncul setelah terjadi infeksi. Ya, tanda dan gejala penyakit ini bisa terjadi setelah 1 hingga 20 tahun bakteri Mycobacterium Leprae menginfeksi tubuh si penderita. Maka terjadinya penyakit kusta sering tidak disadari oleh penderitanya. 

Penularan Penyakit Kusta

Apa yang akan terjadi pada penderitanya?  Apabila saat gejala awal langsung mendapatkan penanganan yang tepat maka kondisi penderita akan cepat teratasi. 

Namun, bila pengobatan terlambat dilakukan maka bisa menyebabkan cacat permanen, seperti jari tangan membengkok, terjadi luka, atau bahkan terputus, kaki melemah dan mata tidak dapat menutup. 

Kusta dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu :

1. Kusta Kering atau Pausi Basiler (PB)

Tandanya ada bercak putih seperti panu dan mengalami mati rasa, permukaan bercak terasa kering dan kasar, tidak tumbuh rambut dan bercak yang tumbuh pada kulit mencapai satu sampai lima lokasi. Kusta PB ini tidaklah menular.

2. Kusta Basah atau Multi Basiler (MB)

Tanda yang terlihat dari kusta ini adalah terlihat bercak putih kemerahan dan tersebar di seluruh kulit penderita, terjadi juga penebalan kulit dan muncul pembengkakan pada bercak. Bercak yang muncul lebih dari tiga lokasi dan terjadi kerusakan saraf tepi. Hasil pemeriksaan bakteriologi juga positif. Kusta MB mudah menular. 

Proses Penularan Kusta

Bagaimana cara penularan kusta? Seseorang dapat tertular dari percikan air liur dari orang yang terinfeksi bakteri Mycobacterium Leprae baik saat batuk, bersin atau ketika berbicara. Namun, reaksinya tidak akan terjadi secara langsung melainkan paparan berlangsung terus menerus dan dalam waktu yang lama.  

Pencegahan Penyakit Kusta

Munculnya bercak pada kulit menjadi langkah awal untuk segera melakukan pengecekan pada tenaga medis terdekat agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Langkah pengobatan akan membantu memutus rantai penularan, mencegah risiko terjadinya cacat pada penderita, dan dapat membantu proses penyembuhan menjadi lebih cepat. 

Langkah yang sebaiknya dilakukan untuk membantu mengurangi penularan kusta adalah menerapkan pola hidup sehat agar dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh. Pola hidup sehat ini selayaknya dapat dilakukan oleh seluruh anggota keluarga mulai dari anak-anak sampai usia lansia. 

Perkembangan Penyakit Kusta di Indonesia

Menurut data WHO, Indonesia ada di urutan ketiga terbanyak jumlah penderita kusta di dunia. Sedangkan India dan Brazil berada di urutan pertama dan kedua. Sedihnya dengan fakta tersebut. 

Kusta memang masih ada di negara kita. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu menjelaskan ada delapan wilayah yang belum bebas kusta. 

Data Penyakit Kusta di Indonesia

Lalu bagaimana dengan anak-anak, apakah mereka kelompok yang aman untuk penyakit ini? Semua usia memiliki risiko yang sama dan anak-anak menjadi kelompok yang cukup rentan terhadap penyakit ini. 

Bagaimana mereka bisa tertular di usia yang masih dini? Hal ini bisa disebabkan karena ada orang yang terinfeksi kusta di sekitar mereka dan tidak mendapatkan penanganan atau tidak diobati sehingga menular pada anak-anak di sekitarnya. 

Bukan Merupakan Penyakit Kutukan

Mendengar kata kusta, tidak sedikit orang yang langsung merasa gamang. Dampaknya para penderita menjadi dikucilkan, dan diasingkan dari lingkungan sekitar. Faktanya penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri yang tidak akan membuat seseorang tertular karena bersalaman, duduk bersama atau bahkan berhubungan intim. Termasuk juga tidak ditularkan dari ibu ke janinnya. 

Benarkah penyakit kusta menakutkan? Tak dipungkiri bahwa awalnya penyakit ini memang dianggap sebagai kutukan, bahkan sering dikaitkan dengan perbuatan dosa yang dilakukan. Namun, penelitian yang terus dikembangkan membuat semua dugaan tersebut terbantahkan. 

Kondisi penderita yang mengalami cacat permanen, adanya salah satu anggota gerak yang terputus, timbulnya luka dan kerusakan organ tubuh lainnya bisa disebabkan karena proses penanganan penyakit yang terlambat dilakukan.   

Kemajuan dunia teknologi dan ilmu kedokteran yang semakin maju membuat proses pengobatan dapat segera dilakukan setelah mengetahui gejala yang terjadi sejak dini. Kondisi penderita pun bisa tertangani dengan tuntas dan kondisi tubuh tetap baik. 

Baca juga :

Sikap Terhadap Penderita

Setelah memahami bahwa kusta disebabkan oleh infeksi bakteri maka sudah selayaknya kita mampu memperlakukan penderita dengan sebaik mungkin. Tidak ada seorang manusia pun yang ingin menyakiti orang lain yang ada di sekitarnya. 

Bukankah kebersamaan itu lebih membahagiakan dibandingkan dengan menyakiti. Kita sebagai insan sosial juga sudah selayaknya mampu memahami bagaimana kondisi sesama. Kepedulian tidak selalu dilakukan dengan materi yang dimiliki, tetapi bentuk perhatian saja sudah memberikan kebahagiaan tersendiri. 

Saling menjaga kesehatan diri, lingkungan dan mau berbagi dengan rasa juga perhatian dengan sesama. Namun, tetap dalam koridor yang tepat dan tidak berlebihan sehingga tetap mampu saling menghargai dan menghormati. 

Maka hal yang sebaiknya kita lakukan pada penderita kusta adalah memberikan dukungan juga motivasi bahwa dalam menjalani kehidupan ini kesehatan tubuh perlu dijaga. Sehingga penderita perlu melakukan pengobatan secara rutin agar kondisi kesehatannya dapat kembali pulih. 

Kondisi disabilitas yang terjadi pada mereka bukan berarti membuat kita layak mengasingkannya. Pengucilan dan stigma negatif yang diberikan terhadap penderita kusta baik dengan atau tanpa disabilitas justru akan membuat semangat hidup berkurang juga semakin melemahkan diri mereka.

Taklshow Ruang Publik
Talkshow Ruang Publik – Geliat Pemberantasan Kusta dan Pembangunan Inklusif Disabilitas

“Tidak ada pembatasan kondisi untuk merekrut tenaga kerja selama mereka dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan posisi yang dibutuhkan dan mampu melakukan kompetensi dengan baik. Misalnya kondisi bibir sumbing mampu menjadi editor yang profesional, difabel karena kecelakaan yang membuat organ kakinya tidak berfungsi lagi, tetapi mampu menjadi seorang layout man.”  ~ DR. Rohman Budijanto, SH. MH (Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi-JPIP Lembaga Nirlaba Jawa Pos    

Penutup

Benarkah penyakit kusta menakutkan? Setelah mengetahui fakta mengenai penyakit ini ternyata tidaklah demikian. Penyakit ini memang sudah dikenal sejak lama dan bakteri Mycobacterium Leprae tidak langsung memberikan reaksi pada tubuh penderita. 

Diketahui sejak dini gejala yang terjadi pada tubuh akan membantu proses penanganan cepat dilakukan. Akibat yang ditimbulkan karena tidak mendapatkan pengobatan sejak dini memang menakutkan. Maka sudah selayaknya kita melakukan sosialisasi tentang penyakit ini secara meluas sesuai dengan kemampuan kita. 

Semoga pemahaman kita dan masyarakat terus bertambah dan prevalensi penyakit ini pun menurun. Serta sikap kita terhadap penderita tidak dengan menyisihkannya, tetapi bersikap sewajarnya seperti insan lainnya. 

Salam, 

Referensi:

  • https://www.halodoc.com/artikel/awal-mula-penyakit-mematikan-kusta
  • https://www.kemkes.go.id/article/view/21013000001/prevalensi-kusta-pada-anak-tinggi-ini-upaya-kemenkes.html
  • https://kbr.id/kesehatan/01-2020/mungkinkah_indonesia_bebas_kusta_/102092.html
  • https://www.kemkes.go.id/article/view/19020800001/waspada-kusta-kenali-cirinya.html
  • https://www.youtube.com/watch?v=k8SlEpVDgbw&t=109s
Share the article :

2 komentar untuk “Benarkah Penyakit Kusta Menakutkan, Ini Faktanya”

  1. Aku juga dulunya ngira kusta itu penyakit yang menakutkan, bahkan mematikan, tapi ternyata nggak ya mbak. Tapi gimanapun yg namanya penyakit kusta gini ya jangan sampeklah mampir ke tubuh kita, naudzubillah..

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *