Literasi

Perjuangan dan Kesabaran Untuk Meraih Kebahagiaan, Review Buku I Am Sarahza

Novel hasil karya Hanum Salsabila Rais dan Rangga Halmahera jadi pilihan bacaan saya bulan Februari lalu. Hanya dalam waktu sekitar 5 hari saya menuntaskan novel setebal 368 halaman ini, mungkin waktu yang lama untuk kamu yang suka buku banget ya. Нĭ°°~нĭ°°. Maklum kalau saya baca bukunya sambil ngasuh anak dan wira wiri ibu rumah tangga.

Awalnya saya hanya tahu penulisnya saja, Hanum Rais, terus penasaran apa saja sih buah karyanya. Dari hasil penelusuran di mbah Google tahulah saya kalau hasil karya Hanum Rais tuh, ada yang best seller bahkan sudah dibuat film. Wah, saya langsung penasaran jadinya dan novel pertama yang saya pilih untuk dibaca dengan judul I Am Sarahza.

Kenapa pilih novel ini? Entah kenapa waktu baca judulnya sudah langsung tertarik dan rasanya ada yang beda dari novel ini. Setelah memilih beberapa buku, saya pun menunggu proses pengiriman yang ternyata membutuhkan waktu seminggu lebih karena buku lain yang saya beli bersamaan dengan novel ini, stocknya sempat kosong.

Sempat dapat bocoran dari teman yang sudah baca novel ini, kalau kisahnya menarik banget dan berisikan tentang perjuangan memiliki buah hati. Saya masih agak nggak percaya sih, tetapi saya harus bersabar menanti sampai novel ini mendarat di rumah dan bisa saya baca langsung.

“Aku yakin, seorang calon manusia yang dituliskan di Lauhul Mahfuzh, tengah menanti ditempatkan dalam rahimmu. Aku hanya punya keyakinan yang terus kupelihara!”

Sebelum membaca lengkap isi novelnya, saya coba bolak balik dulu untuk mengurangi rasa penasaran, kemudian lembar demi lembar saya baca. Awal kisah menceritakan bagaimana proses pertemuaan Hanum dan Rangga. Dua insan yang dipertemukan oleh Sang Khaliq dengan caranya yang indah.

Dari sebuah gigi geraham untuk proses kelulusan menjadi dokter gigi hingga akhirnya berlanjut ke pelaminan. Bahtera rumah tangga yang dibentuk dengan rasa kasih dan sayang tentunya berharap dapat segera diberikan buah hati sebagai penerus keluarga. Namun setiap doa tidak selalu mudah diwujudkan, terkadang prosesnya membutuhkan perjuangan dan kesabaran. Setiap keluarga tentu memiliki perjuangan masing-masing dan salah satunya pasangan muda ini.

Saat Hanum dan Rangga tengah berjuang mewujudkan cita-citanya, mereka diingatkan untuk tidak terlena dan diharapkan terus berusaha untuk memiliki buah hati. Membuang jauh ego yang ada dalam diri masing-masing dan mau terus bersatu untuk saling menguatkan dalam suka dan duka.

Usaha demi usaha pun terus dilakukan untuk mewujudkan harapan itu. Proses kehamilan dengan inseminasi dan bayi tabung dilakukan hingga beberapa kali. Hasilnya ada yang gugur, ada yang gagal berkembang dan ada yang terus berjuang.

“Takdir Tuhan memang tidak bisa dilukiskan hanya dengan sebaris kata ‘indah’. Atau ‘sempurna’ sekalipun. Keberuntungan akan selalu berpihak pada mereka yang memelihara kesabaran.”

Inilah kehidupan. Tak selamanya kita akan merasakan kebahagiaan, ataupun kesulitan. Hasil yang kita dapat tentu tak lepas dari perjuangan yang kita lakukan. Perasaan sedih dan tak berdaya setelah berusaha sekuat tenaga, mungkin akan dirasakan, tetapi bagaimana memaknai apa yang terjadi dalam kehidupan ini bergantung pada diri kita sendiri.

Jika kita terus mengikuti kemauan diri dengan terbawa emosi dan tidak menerima semua apa yang telah dialami maka kondisi kita akan semakin terpuruk dan jauh dari rasa syukur kepada Sang Kuasa. Hal ini akan membuat kita semakin lemah dan tak berdaya. Namun sebaliknya, jika kita mampu menyandarkan semuanya pada Sang Kuasa dan berpegangan pada orang yang kuat baik pada pasangan juga keluarga maka semua kepedihan yang dirasakan akan segera teratasi dan sirna. Kemudian berusaha untuk bangkit memperbaiki diri dan berbuat yang terbaik untuk orang yang kita sayangi.

Novel ini tidak hanya mengisahkan perjalanan kehidupan pasangan muda dalam mendapatkan buah hati tercinta, tetapi ada pesan moral yang disampaikan bahwa pada hakikatnya kita adalah insan yang lemah dan tak berdaya. Maka mintalah kekuatan dan kesabaran hanya pada Sang Khaliq agar kondisi yang kita alami bisa kita lalui dengan penuh rasa syukur. Terkadang kita merasa bahwa apa yang kita alami sangat sangat berat, padahal ada yang kondisinya jauh lebih berat daripada kita.

Rasa syukur akan membuat kita menjadi insan yang tegar dan mampu menghadapi segala persoalan dengan baik. Bersyukur dalam segala kondisi dan mau berbagi juga dengan sesama atas apa yang kita miliki, agar nikmat yang kita rasakan bisa dirasakan juga oleh yang lain, sehingga nikmat itu akan terus ditambahkan oleh Allah SWT.

 

Salam sayang.

Share the article :

Tentang Penulis

About Asih Mufisya

Motherhood blogger dan mencintai dunia literasi juga suka baking yang simple.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *