Inspirasi

Saat Kehilangan Seseorang Yang Di Sayang

Helo, apa kabar sahabat?
Pernah merasakan bagaimana kehilangan orang yang disayangi? Sedih sudah pasti. Rasa ini adalah sunnatullah. Saat senang kita bahagia dan ketika kehilangan pasti akan bersedih.
Kehilangan orang yang disayangi merupakan pukulan yang sangat berat dirasakan. Lalu berapa lama perasaan ini? Sampai kita bisa merasa ikhlas akan kepergiannya. Semakin cepat ikhlas maka rasa sedih itu akan segera menguap. Namun, bagaimana bisa ikhlas kalau berat terasa. Untuk berbicara ikhlas memang mudah, tetapi saat mengalaminya sendiri pasti tidak semudah itu. Berat.
 
Ya benar, ikhlas memang tidak mudah. Butuh waktu, kekuatan dan tekad yang kuat dan sejatinya yang sudah kembali pada Allah SWT, tidak akan dapat kembali lagi.
Hakikat kehidupan
Sahabat masih ingatkah, bahwa sejak dalam kandungan ada 3 hal yang sudah ditentukan pada setiap insan, yaitu : umur, jodoh dan rezeki. Ketiga hal inilah yang menjadi ketetapan Allah SWT dan tidak akan dapat ditukar dengan insan yang lainnya.
Sedangkan hakikat kehidupan yang Allah berikan pada umatnya, seperti yang terdapat dalam firman Allah SWT sebagai berikut :
                              “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribahah kepada-Ku.”
QS. Az-Zariyat : 56
 
Kehidupan yang Allah berikan ini ditujukan hanya untuk beribadah kepada-Nya, yaitu dengan mengelola alam ini dengan sebaik-baiknya, melakukan amalan soleh, menjaga adab bermasyarakat dan mampu menempatkan segalanya sesuai dalam koridor agama, karena agama merupakan fondasi kehidupan.
Menerima semua kehendak Sang Khalik
Ikhlas menerima kehendak-Nya (Sumber : Pixabay)
Sang Khalik sudah memiliki ketetapannya sendiri yang tidak akan dapat diubah. Ujian juga merupakan kehendak yang Allah berikan untuk memastikan apakah kita mampu naik kelas ke tahapan selanjutnya atau tidak. Karenanya semua yang terjadi pasti mempunyai hikmah tertentu. Sebagai insan, kita sering kali memandang hanya sebelah mata, bahwa ujian itu memberatkan dan membuat kita susah. Padahal di balik itu semua, hikmahnya jauh lebih besar. Namun, hikmah ini tidak akan kita rasakan langsung, melainnya waktu yang akan membuktikannya.
 
Begitupun dengan usia. Masa hidup yang telah Allah SWT tentukan pada setiap insan berbeda. Nabi Muhammad SAW wafat di usia 63 tahun, tapi apakah Nabi mengetahui batas masa hidupnya? Tentu tidak, karena memang tidak ada yang diberitahukan, semua ketetapan Allah adalah rahasia Ilahi.
Hadapi semuanya dengan senyuman  
Kembali tersenyum setelah menghadapi ujian akan membuat kita menjadi lebih kuat untuk terus melangkah di hari-hari selanjutnya. Kesedihan yang berlarut akan membuat kita menyesali semua kehendak Allah. Kesedihan yang hanya akan menyisakan duka yang berkepanjangan.
 
Senyuman tanda kita mampu menerima semua kehendaknya dengan tulus ikhlas. Walaupun berat di awal, tetapi doa akan terus mengiringi kepergiannya, agar kebahagian terus bersamanya di alam sana dan diampuni semua dosa-dosanya. Ya, doalah yang akan membuat diri seseorang itu menjadi lebih ikhlas. Hanya doa yang mampu menghubungkan hamba dengan Sang Khalik.
 
Hakikat kehidupan (Sumber : Pixabay)
 Inilah kehidupan. Bagaikan dua sisi mata uang. Ada kebaikan dan kejahatan. Ada kehidupan dan kematian. Ada kebahagian dan kesedihan. Sunnatullah. Semuanya tidak bisa dihindari, tetapi harus terus dijalani hingga batas waktu yang telah ditentukan. Ya, ada batas waktunya. Tidak ada yang akan kekal abadi. Allah sudah memberikan batasan waktu tertentu pada setiap insannya dan tidak akan ada insan yang mampu mengelak. Meski ia bersembunyi di lubang semut sekalipun. Lalu persiapan apa yang sudah kita lakukan untuk menghadapi semua ketetapan ini? Kembalikan pada hakikat kehidupan kita. Yaitu semua makhluk ciptaan-Nya diminta untuk beribadah kepada-Nya.
 
Semua ujian yang kita hadapi adalah bagian dari kehendak Allah juga agar kita bisa menjadi hamba-Nya yang selalu dekat dengan-Nya. Hanya mengharapkan semua kepada Allah semata, bukan kepada yang lain. Karena Dia lah pemilik alam semesta beserta isinya. Kita juga harus berusaha untuk selalu dapat berhusnuzan dengan semua yang kita hadapi. Karena semua yang terjadi akan ada hikmah untuk diri kita sendiri. Insya Allah.
 
*Sebuah renungan diri untuk terus lebih baik lagi.
Semoga bermanfaat.

 

Tentang Penulis

About Asih Mufisya

Motherhood blogger dan mencintai dunia literasi juga suka baking yang simple.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *