Literasi

REVIEW AYAH … KISAH BUYA HAMKA BY IRFAN HAMKA

Niat membaca buku ini sebenarnya sangat tak terduga. Waktu lalu sempat coba cari buku nonfiksi yang ingin segera dibaca melalui situs Online. Nah, saat cari mencari inilah, tiba-tiba tergugah waktu membaca judul buku yang terpampang. Ayah … Kisah Buya Hamka. Cover kream dengan sketsa Bapak Buya Hamka, terlihat menggoda dan akhirnya klik, masuklah dalam keranjang belanja.

Sebelum saya membaca, sejenak saya buka perlahan bukunya. Ternyata buku Ayah adalah hasil tulis tangan buah hati ke-5 Buya Hamka, yaitu Irfan Hamka, dengan ketebalan buku mencapai 323 halaman. Maka lembr demi lembar pun saya nikmati rangkaian katanya.

Melalui buku ini, tergambarkan bagaimana sosok Buya Hamka, ulama yang terus menebarkan kebenaran tanpa ada rasa takut sedikitpun juga penulis handal / sastrawan yang telah menelurkan berbagai buah karya mulai dari artikel diberbagai media, buku filsafat tasawuf, roman, sejarah, tafsir Alquran dan otobiografi.

Cintai Allah dan bencilah kepada yang dibenci-Nya, menurut cara yang diperintahkan Allah. Da, jangan hanya pndai melihat kehebatan diri karena yang hebat hanyalah Allah. Tidak ada yang lain.

 

Mengenal sosok Buya Hamka

Bernama lengkap Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang kemudian disapa dengan Buya Hamka, lahir di Maninjau, Sumatera Barat. Beliau adalah putra pertama dari pasangan Dr.Abdul Karim Amrullah dan Shaffiah.

Masa pendidikan yang beliau dapatkan tidaklah dengan mudah diraih, bahkan saat pendidikan Sekolah Dasar tidak tamat. Namun, semangat untuk terus maju dan berkembang pada diri beliau tidaklah padam. Meskipun pernah mendapatkan ejekan karena mengenyam pendidikan di sekolah desa, yaitu dilecehkan oleh anak kelas atasnya. Kemudian saat mencoba menjadi guru, dinyatakan tidak diterima karena tidak memiliki ijazah atau diploma. Kepedihan tersebut menjadikan Buya Hamka menjadi pribadi yang kuat dan berusaha untuk meraih apa yang menjadi harapannya. Harapan terbesar kala itu adalah bisa menimba ilmu lebih banyak ke kota Mekkah.

Kesukaannya akan membaca dan mencatat hal penting dalam buku membuat beliau terus menekuninya, hingga menggeluti dunia media sebagai wartawan. Tulisan tangan Buya Hamka secara perlahan juga berhasil diterima di beberapa media dan mendapatkan sambutan yang baik dari berbagai kalangan dan sampai saat inipun kita masih dapat membaca hasil karya beliau.

Semua orang harus meluruskan niat, menjalankan kehidupan semata karena Allah.

 

Sosok Buya Hamka menurut pandangan saya

Sebelum saya membaca buku ini, pandangan yang saya ketahui mengenai Buya Hamka, bahwa beliau seorang ulama dan tokoh negarawan yang cukup disegani. Jiwa yang cerdas dan berwibawa. Namun, setelah buku ini saya tuntaskan, berbagai rasa bercampur menjadi satu, kayak permen asem manis aja ya. Hi.

Maksudnya saya jadi merasa kagum dengan sosok beliau. Terbayang bagaimana kondisi negara di saat itu, semangat perjuangan untuk meraih kemerdekaan dan menjaga keutuhan negara, tentu sosok Buya Hamka menjadi pencerah suasana. Ketenangan jiwanya, mampu memberikan solusi akan apa yang sedang terjadi baik untuk kepentingan negara, masyarakat sekitar juga keluarga.

Buku ini tidak semata mampu mengenalkan bagaimana sosok Buya Hamka, tetapi juga memberikan inspirasi dalam menapaki gejolak kehidupan ini.

 

Salam hangat.

 

 

 

 

Tentang Penulis

About Asih Mufisya

Motherhood blogger dan mencintai dunia literasi juga suka baking yang simple.

(2) Komentar

  1. Great content! Super high-quality! Keep it up! 🙂

    1. Terima kasih sudah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *