Hikmah Ramadan di Balik Pandemi Covid-19

Bulan ramadan adalah bulan yang dinantikan kehadirannya. Ada banyak keistimewaan di bulan ini. Meski kita diminta untuk bangun dini hari untuk sahur, tetapi tetap dinikmati, walaupun kantuk begitu kuat. Tak ada keluhan sedikitpun saat menjalani hari demi hari yang indah di bulan ini.

Tahun 2020 menjadi tahun yang berbeda, karena kita mengalami pandemi virus Covid-19 yang sudah mulai masuk ke negeri tercinta ini sejak bulan Maret 2020. Ada banyak perubahan yang terjadi sejak pandemi ini datang dan untuk menjaga kondisi kita juga keluarga, maka dihimbau untuk #dirumahsaja agar dapat memutus mata rantai penyebarannya. Meski begitu ada banyak hikmah yang kita dapatkan di saat bulan ramadan ini.

 

Kumpul dengan keluarga #staysave

Keluarga merupakan pilar dalam menjalani kehidupan ini. Bersama keluarga kita berusaha untuk terus saling menyayangi, berbagi satu sama lain juga saling menguatkan. Di tengah pandemi seperti saat ini, kehadiran keluarga tentu memberikan warna yang membahagiakan.

Kumpul bersama, bermain, bersenda gurau, juga saling bekerja sama dalam menjalani masa #dirumahsaja supaya rasa bosan dan jenuh itu bisa sirna. Jika sebelumnya setiap anggota keluarga sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, maka saat ini semua bisa berkumpul bersama sepanjang waktu. Makan bersama, nonton bareng, masak dengan berbagi tugas, dll.

“Sebaik-baiknya manusia adalah ia yang paling baik dengan keluarganya.”

Ini bagian hikmah yang tentu menyenangkan. Bonding antara anggota keluarga semakin terjalin. Memang tak sedikit di luar sana yang tidak dapat berkumpul dengan keluarganya. Aturan social distancing juga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) membuat mereka tidak dapat mudik untuk  berkumpul dengan keluarga. Ahhh … Kebayang bagaimana sedihnya mereka.

 

Terus membenahi diri

Kita adalah insan yang begitu lemah dan sangat bergantung dengan Sang Khalik. Ada berbagai banyak kekurangan juga kesalahan yang sudah pernah kita lakukan. Ramadan menjadi bulan istimewa untuk semakin mendekatkan diri dengan Sang Khalik. Memohon ampunan juga menjalin ikatan kuat dengan melakukan amal ibadah sebaik mungkin.

Memperbaiki suatu hal memang tidak ada yang instan, semuanya tentu membutuhkan proses juga waktu, tetapi tidak ada yang tak mungkin selagi kita mau terus berusaha. Hal yang pernah saya alami adalah pernah berat untuk membaca ayat suci AlQuran. Waktu yang berjalan rasanya tidak cukup kalau diseling dengan membaca ayat-ayat Allah SWT tersebut. Hingga suatu ketika ada yang mengingatkan.

“Kunci sebuah kebahagiaan bukan hanya berdasarkan dari keberhasilan dunia yang kamu raih, tetapi seberapa dekat kamu dengan Sang Kuasa.”

Akhirnya saya coba buka lembar demi lembar ayat suci ini, kemudian membacanya meski dengan suara terbata-bata. Meskipun belum banyak yang dibaca, saya berusaha untuk bisa rutin melakukannya setiap hari. Yakin nanti akan jadi menyenangkan dan memang terasa perbedaannya. Hati menjadi lebih tenang.

 

Berhusnuzon dengan kondisi pandemi

Bukan hal yang mudah menghadapi pandemi ini. Tak sedikit yang mengalami kesulitan karena adanya aturan yang membatasi ruang gerak kita. Memang semuanya bertujuan baik, tetapi kita juga perlu menjaga keberlangsungan kehidupan ini. Kalau semuanya dibatasi bagaimana kehidupan kita selanjutnya?

Ya benar, kita memang perlu menjaga keberlangsungan kehidupan ini, tetapi semua yang terjadi juga atas kuasa Ilahi. Kita tidak akan sanggup menghindarinya. Maka yang sebaiknya kita lakukan adalah terus berhusnuzon dengan semua kehendak-Nya. Karena akan ada hikmah di balik setiap kejadian.

Berbagai pihak berusaha untuk melakukan tindakan yang terbaik agar kita dapat menjalani masa pandemi ini. Berusaha untuk saling bahu membahu agar Covid-19 bisa segera sirna. Maka selayaknya kita juga perlu mendukung hal ini, agar harapan yang kita inginkan bisa segera terwujud.

 

Tak ada yang ingin mengalami kondisi yang berat dalam kehidupan. Namun, segala yang terjadi adalah atas kehendak-Nya dan tidak akan dapat di tolak. Bukan dengan marah juga keluhan yang akan menyelesaikan segalanya, tetapi terus berusaha bersama-sama menghadapi keadaan yang terjadi agar semua dapat segera berlalu, kemudian memetik hikmah dari kejadian yang telah terjadi.

Ramadan hanya berlangsung selama sebulan, karenanya di bulan penuh berkah dan rahmat ini sayang bila dilewatkan begitu saja. Mendekatkan diri dan terus berbenah membuat diri kita menjadi lebih baik juga berusaha untuk menjaga keistikamahan hingga akhir hayat.

 

Salam.

Asih Mufisya

About Asih Mufisya Motherhood blogger dan mencintai dunia literasi juga suka baking yang simple.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas