Cerpen : Karena Kehadirannya

Bismillah.

Matahari bersinar begitu benderang, sinarnya terasa sampai kulit meskipun aku sudah mengenakan kemeja panjang. Uuuuh panasnya benar-benar terasa sekali. Apakah semuanya merasakan hal sama sepertiku? Tentunya. Karena saat aku cek suhu hari ini melalui ponselku, suhunya sekitar 35 derajat celcius. Masya Allah. Karenanya benar-benar panas, hot kalo kata orang mah.

Ingin rasanya aku bisa segera sampai rumah, berteduh dari panas matahari dan bisa beristirahat di kasur singgasanaku. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera sampai, tapi macet ini belum terlerai juga dari tadi, padahal jaraknya tinggal sedikit lagi.

“Nina bagaimana tugas kuliahmu tadi, sudah selesaikah?” tanya Mira yang duduk di sebelahku. Kami mempunyai banyak kesamaan, jarak rumah tidak terlalu jauh, kuliah ditempat yang sama juga satu jurusan.

“Boro-boro Mir, tugasku belum selesai, masih bingung mengerjakannya, kamu sudah ya?” akupun balik bertanya.

“Berarti kita sama donk. Nanti kita kerjain bareng aja yuk, biar bisa cepat selesai,” jawab Mira.

 

Kisah yang ku tulis hari ini. (Sumber : Freepik) 
Selesai Mira menjawab pertanyaanku, handphone yang digenggamnya berbunyi dan Mira pun langsung menjawabnya.
 
“Assalamualaikum, iya Bang Asrul. Mira sudah arah pulang kok, tapi masih kena macet, paling sekitar 45 menit lagi sampai kok Bang. Ada apa Bang Asrul? Semua baik-baik sajakan? Oiya Bang, Mira akan hati-hati. Waalaikumsalam Bang.”
Refleks aku pun langsung bertanya ada kabar apakah gerangan?
 
“Ga tau deh Nin, Bang Asrul enggak bilang ada apa, cuma minta segera sampai rumah aja,” jawab Mira dengan rasa tidak tenangnya. Sebenarnya dia juga penasaran dengan kabar apa yang ingin disampaikan Bang Asrul, tapi jawabannya harus ditunggu sampai rumah.     
 
Aku berusaha memenangkan Mira yang mulai terlihat gusar. Ku tawarkan apakah akan beralih naik ojek saja supaya bisa segera sampai rumah, dia hanya menggeleng lemah.
Tranjakarta yang ku naiki perlahan jalan dan terus berjalan. Macet sudah mulai terlerai sehingga jarak rumah semakin dekat.
 
“Ayo Mir, kita sudah hampir sampai, semoga semua baik-baik saja ya.”
 
Aku dan Mira bergegas sampai rumah, tapi saat sampai di pertigaan terlihat ada keramaian disana. Mira pun segera berlari untuk mengetahui apa yang terjadi. Aku pun menyusulnya.
 
“Bang Asrul ada apa Bang?” tanya Mira saat melihat Bang Asrul berdiri di depan pintu rumah.
 
“Mir, kamu baik-baik aja kan? Tidak ada apa-apa di kampuskan?” tanya Bang Asrul yang terlihat kaget dengan kehadiranku dan segera memastikan kondisiku. Dilihatnya seluruh tubuhku untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.
“Iya Bang, aku baik-baik saja. Ini juga ada Nina yang sedari tadi bersamaku,” jelas Mira.
 
“Alhamdulillah. Nina kau baik-baik sajakan?” tanya Bang Asrul kepadaku.
 
“Iya Bang, saya dan Mira baik-baik saja. Kami memang agak lama sampai rumah karena tadi macetnya cukup panjang,” jawabku menjelaskan.
 
Bang Asrul mengajakku dan Mira masuk rumah, kemudian mengambilkan kami air mineral. Sambil menenangkan diri, Bang Asrul minum perlahan segelas air yang dipegangnya dan terlihat menarik nafas lega.
 
“Tadi ada yang datang ke rumah menanyakan Mira. Terus kata orang itu, kau dalam kondisi kritis di rumah sakit karena terjadi kecelakaan. Abang diminta mentransfer dulu sejumlah uang untuk biaya masuk rumah sakit dan penanganan di UGD nya, tapi saat abang tadi menelepon kau tidak terjawab, abang paniklah. Terus abang coba telepon lagi dan langsung terjawab, abang jadi tenang,” jelas Bang Asrul.
 
“Alhamdulillah, Mira baik-baik Bang. Tadi telepon Bang Asrul enggak terjawab karena handphone sempat mati, terus kemana orang yang tadi datang Bang,” tanya Mira penasaran.
 
“Waktu tadi abang panik dan kaget, abang panggil bapak Heru yang sedang kerja disebelah rumah dan Pak Heru ngajak teman-temannya ke sini untuk memastikan keadaan abang. Waktu abang cari-cari orang itu sudah menghilang.”
 
Lega rasanya hatiku. Mira dan Bang Asrul pun tersenyum bahagia. Alhamdulillah kami semua terlindungi. Biarkan orang jahat itu pergi, semoga tidak akan pernah kembali lagi.
 
 
 
Cerpen Tantangan ODOP Pekan ke-7
Share the article :