Literasi

Cerbung : Kenangan Masa Itu – Ending

Cerbung (Sumber : Pixabay)

Tanpa terasa waktu terus bergulir dan selama Mira pergi ke Solo, aku berteman sepi. 
Saat di rumah sendiri, aku lebih banyak mengisi waktu dengan melihat social media, nonton TV dan membaca novel kesukaanku. Mira terus memberikan kabar akan kondisinya di sana, menyampaikan bahwa setelah dilakukan pemeriksaan ternyata ayahnya mengalami penyakit ginjal dan harus menjalani cuci darah setiap 2 minggu sekali. Saat kondisi ayahnya sedang ngedrop, Mira harus segera membawanya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan.

“Nin, bagaimana harimu? sepi ya… Awas jangan banyak bengong, nanti Irfan marah lho,” goda Mira pagi ini.

“Hahaha… Bisa saja kamu Mira, aku ikhlas kok kalau kamu mau sama Irfan,” godaku balik.

“Bagaimana kondisi ayah, sudah lebih baikkah? Senin sudah mulai kuliah lho, kapan kamu akan pulang Mir?” tanyaku.

“Alhamdulillah ayah sehat. Kamis lalu ayah baru cuci darah. Aku belum tahu kapan akan ke Jakarta lagi. Rasanya aku nggak tega meninggalkan ibu dan ayah. Akan ku pikirkan lagi bagaimana baiknya,” jawab Mira.        

“Aku sedang coba mencari pekerjaan di sini Nin, doakan dapat ya. Jumlat lalu aku coba menaruh lamaran di beberapa tempat, semoga saja salah satunya rezeki untukku,” lanjut Mira menjelaskan.

“Apa cari kerja, terus bagaimana kuliahmu? Apa memang tidak ingin lanjut lagi dan akan menetap di Solo saja?” tanyaku memastikan.

“Nina, sudah ku bilangkan ayah harus cuci darah setiap 2 minggu sekali dan biayanya tidak sedikit, aku tidak bisa mengandalkan Bang Asrul terus. Untuk beberapa kali cuci darah ke depan, Ibu sudah punya simpanan, tapi selanjutnya bagaimana, sedangkan untuk biaya sehari-hari juga harus ada pemasukan. Sebenarnya aku juga bingung harus bagaimana, tapi untuk terus lanjut kuliah rasanya berat,” jawab Mira. Nada suaranya menyatakan kemantapan akan keputusan yang diambilnya.

“Apa kamu sudah bilang Bang Asrul?” tanyaku.

“Belum sempat, tapi ku rasa Bang Asrul bisa menerima keputusanku,” jawab Mira.

Berat rasa hati ini dengan keputusan yang Mira ambil, tapi hidup adalah pilihan. Meski terkadang pilihan yang kita ambil adalah pilihan yang berat sekalipun, tetap kita harus bisa memilih mana yang diinginkan.

Percakapanku melalui telephon semalam adalah yang terasa menyedihkan dan membuatku harus menerima kenyataan bahwa Mira akan selamanya di Solo. Namun, aku yakin, Mira jauh lebih merasa sedih dan harus terus berjuang untuk orang tuanya. Ya, harapan orang tua adalah anak-anaknya, bukan pada orang lain, atau yang Mira bilang, saatnya aku berbakti kepada orang tuaku.

Beberapa hari Mira tidak memberikan kabar apapun. Chat yang ku kirimpun hanya di jawab singkat saja. Tidak ada penjelasan bagaimana kondisinya saat ini. Dia hanya menyampaikan, semuanya baik-baik saja. Saat ku tanya bagaimana hasil lamaran kerjanya, belum ada jawaban baik katanya.
Tugas kuliah yang semakin hari semakin menyita waktuku, membuat pikiran pada Mira terlupakan. Selama beberapa waktu tidak terdengar bagaimana kabarnya dan aku pun tidak selalu menanti kabarnya lagi. Hingga suatu hari aku bertemu dengan Bang Asrul dan menyampaikan bahwa Mira akan segera melakukan lamaran di Solo dengan anak sahabat Ibunya.

“Nina, doakan Mira ya, semoga semua acaranya berjalan lancar. Ahad ini Insya Allah Mira akan lamaran dan segera merencanakan untuk menikah dalam waktu yang tidak lama,” jelas Bang Asrul saat bertemu denganku.

“Oiya Bang, semoga semuanya lancar. Saya sudah lama tidak mendapat kabar dari Mira, apakah no handphonenya sudah ganti?” tanyaku memastikan.

“Jadi sudah lama tidak di kabari ya. Tas Mira waktu lalu di jambret jadi handphone dan data penting lainnya hilang, mungkin karena itu dia belum sempat menghubungi Nina, nanti abang sampaikan ya. No telephon Nina tidak ada perubahankan?” tanya Bang Asrul memastikan.

“Tidak Bang. Saya titip salam untuk Mira juga,” jawabku dan aku pun pamit pulang.

Dalam perjalanan pulang aku teringat semuanya. Ya, teringat masa kebersamaanku dengan Mira. Bercanda, makan bersama dan saling curhat akan apa yang kami rasakan. Semua sudah berlalu.

Mira. Meskipun saat ini kamu sudah jauh, tapi aku akan selalu mengingatmu kapanpun. 
Semoga keputusanmu dengan terus menetap di Solo dan melanjutkan kehidupan di sana adalah keputusan yang terbaik. Hanya doa terbaik untukmu yang akan selalu kupanjatkan.      
Salam bahagia.  

Tentang Penulis

About Asih Mufisya

Motherhood blogger dan mencintai dunia literasi juga suka baking yang simple.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *