Ukhuwah, Menjalin Ikatan Hati dengan Iman

Assalamualaikum … Bagaimana kabar puasa Ramadannya? Hari ini sudah masuk hari ke 25 Ramadan, tinggal beberapa hari lagi kita berpuasa dan selanjutnya menanti bersua dengan Ramadan kembali tahun depan. Akankah kita bertemu dengan Ramadan mendatang. Insya Allah …

Ada yang berkurang di Ramadan tahun ini, tidak bisa bukber bareng teman juga kerabat. Biasanya sejak awal Ramadan jadwal untuk bukber sudah berbaris rapi, tetapi tahun ini tidak ada satupun agenda yang terjadwalkan. Buat saya sendiri, bukber itu tidak harus di cafe ataupun tempat makan tertentu. Di tempat makan biasa dan dilakukan bersama-sama juga sudah bukber, dan terasa kebersamaannya.

 

Jalinan persaudaraan

Apa yang terpikirkan saat kita mempunyai teman? Ingin teman yang bisa mengerti bagaimana kondisi kita, mau saling mengingatkan di kala kita salah, juga mau membantu di kala susah dan sedih. Teman itu sebenarnya cerminan bagaimana diri kita. Jika ingin yang baik maka bertemanlah dengan orang yang baik, dan inilah yang jadi pilihan kita.

Menemukan teman yang sesuai keingian memang tidak mudah. Membutuhkan proses. Awalnya berkenalan dulu, saling sapa, ngobrol, tahu karakternya, lalu setelah klik akan menyatu dan terus beriringan. Namun, dikala tidak bisa saling memahami, maka akan putus begitu saja di tengah jalan. Selanjutnya cari teman baru lagi deh.

Kondisi lainnya, ada yang sudah mendapatkan teman yang baik, tetapi jarak membuatnya terpisah jauh. Ada juga yang masih belum mendapatkan teman seperti yang diharapkan. Proses untuk menemukan teman sesuai keinginan tidaklah singkat, semuanya membutuhkan waktu.

“Seorang mukmin adalah cermin dari saudaranya. Seorang mukmin itu bersaudara dengan mukmin lainnya. Dia tidak akan membiarkannya disia-siakan dan dicampakkan, dan dia akan menjaganya dari belakang.” ~HR. Bukhari

 

Indahnya ukhuwah

Beberapa hari yang lalu, saat saya sedang menemani anak belajar, handphone bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Karena penasaran, saya langsung buka dan baca pesan yang tertulis dan ternyata dari RAS.

“Umi apa kabar? mau minta alamatnya donk Mi, tapi enggak pake lama ya.”

“Alhamdulillah baik. Alamat untuk apa ya? Kenapa buru-buru juga?”

“Ayo donk Mi, kirimin alamatnya. Ada hampers untuk anak-anak nih.”

Entah angin apa yang membawa pesan itu hingga bisa sampai dan terkirim. Awalnya saya berpikir, RAS hanya ingin saling sapa karena sudah lama tidak bersua, tetapi ternyata ada surprise untuk anak-anak. Ahh … rezeki anak soleha. Terima kasih RAS.

Setelah menjawab pesan, saya termenung. Indahnya persaudaraan ini. Bukan hanya dibutuhkan saat susah, tetapi saat dia bahagiapun tetap mau berbagi. Bingkisan itu merupakan bentuk kebahagiaannya karena sudah berhasil hatam Alquran di bulan Ramadan dan ini adalah kali pertamanya. Masya Allah ….

Ikatan ukhuwah tidak selalu ditunjukkan dalam wujud yang riil seperti hadiah, tetapi bisa berupa perhatian, doa juga nasehat. Berikan dengan penuh kejujuran dan tanpa pamrih, nantinya hati yang akan menjalin ikatan itu. Sekuat apa rasa yang ada dalam jiwa akan terbentuk melalui sikap juga perbuatan. Sahabat yang baik adalah keberadaannya mampu saling mengingatkan, dan ketidakadaannya mampu meninggalkan jejak kebaikan.

 

Ikatkan hati dengan keimanan

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa mendatang dan siapa yang akan bersama dengan kita terus. Mau mengingatkan, memberikan saran saat kita bingung, juga membantu di saat sulit. Kita tidak sanggup bila hidup seorang diri. Teman yang baik adalah yang kita cari. Maka ikatlah teman yang sudah kita miliki dan jalin persaudaraan sebaik mungkin. Nasehat Imam Syafii,

“Kalau ternyata nafsumu mendorong untuk membalas seseorang atas dirimu, maka renungkanlah kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan kepadamu, lalu gugurkan satu daripadanya sebagai balasan atas dosanya. Tetapi jangan sekali-kali mengurangi kebaikan hanya karena dosa yang satu ini, karena itulah kezaliman yang sesungguhnya. Jika kamu memiliki sahabat dekat maka peganglah erat-erat. Karena mencari sahabat amatlah susah, sedangkan memutuskan sahabat itu mudah.” ~ Shifatushafwah : 1/234

 

Berapa indahnya ikatan persaudaraan yang dikuatkan dengan keimanan. Teman yang tulus menerima dan saling mengingatkan dalam kondisi senang juga susah. Mau memberikan nasehat dikala salah dan menarik kembali kita ke arah yang sesuai. Diri kita tanpa adanya teman akan terasa sepi. Karenanya ikatlah teman yang baik agar terus mau menemani kita juga memantaskan diri kita agar mampu menjadi teman yang baik untuk yang lainnya.

Hidup dalam kebersamaan memang tidak mudah. Terkadang dibutuhkan pengorbanan. Karenanya terimalah teman dengan sepenuh hati, lapang dada, tidak menuntut dan lakukan setulusnya dari hati yang paling dalam. Bukankah setiap kebaikan yang kita perbuat akan kembali ke diri kita masing-masing.

 

 

Salam.

 

 

Asih Mufisya

About Asih Mufisya Motherhood blogger dan mencintai dunia literasi juga suka baking yang simple.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas