Corona Covid-19, Inilah Fenomena & Harapannya

Virus Corona Covid-19 menjadi bagian kehidupan yang tak terlupakan di tahun 2020 ini. Banyak yang terhenyak dengan kedatangan virus ini. Ada kesedihan, pilu, kepahitan juga keterbatasan. Semua seolah menjerit dengan kondisi yang terjadi.

Perjuangan demi perjuangan dilakukan untuk mengatasi kondisi pandemi ini. Meski begitu tak sedikit orang yang menganggap kondisi pandemi ini biasa saja. Korban jiwa yang  meninggal seolah menjadi hal yang lazim terjadi. Padahal jumlah kasus dari hari ke hari terus bertambah. Di akhir Ramadan ini, adakah doa yang dipanjatkan untuk Covid-19?

 

Jadi fenomenal dan terkenal

Covid-19 … Kehadirannya membuat semua mata tertuju padamu. Dalam waktu yang singkat, banyak yang terinfeksi olehmu. Tak pandang jenis kelamin, usia ataupun kedudukan. Semua kalangan bisa kau rengkuh.

Namamu menjadi terkenal dengan cepat. Ada di media A, sampai Z. Semua memanggil namamu, Covid-19. Setiap hari tak pernah luput dari pemberitaan. Lagi – lagi jumlah kasus yang bertambah atau ada tetas air mata kepedihan karena ada yang meninggal. Bahagiakah kau setelah menjadi terkenal seperti ini.

 

Menjelajah dunia

Covid-19 … Kota asalmu adalah Wuhan, dari negeri China, tetapi saat ini kau sudah mampu menjelajahi seluruh negeri. Dibalik namamu yang terkenal, sebenarnya kau ditakuti. Bagaimana tidak? Orang yang awalnya hanya meremehkanmu, tiba-tiba berubah jadi menakutimu. Namun, meskipun ditakuti, kau tetap terus mengembara tanpa henti.

Data terupdate Kompas.com 19 Mei 2020, menyatakan virus ini sudah menjelajahi 213 negara dengan 4,88 juta kasus yang terinfeksi, dengan jumlah terbanyak di AS, Rusia, Brazil, Spanyol, dan Inggris. Angka yang cukup fantastik, dalam hitungan 5 bulan proses penyebaran.

Penyebaranmu melalui paparan tangan yang menyentuh sekitar wajah kemudian masuk dalam saluran pernafasan dan berinkubasi selama 14 hari, tetapi reaksi pada setiap orang bisa saja berbeda, tergantung bagaimana kondisi fisiknya. Menjaga kebersihan menjadi kunci penting agar kau tidak terus menebarkan jaring.

 

Meninggalkan kesedihan

Covid-19 … Karena kehadiranmu, tak sedikit yang kehilangan orang terkasih. Ada anak yang kehilangan orang tua, pun orang tua kehilangan anaknya. Ada yang gagal menikah karena kekasih tercinta telah mendahului. Ada orang tua yang mesti berjuang menjaga kesehatan anaknya hingga memendam rindu tak jumpa.

Banyak yang berjuang untuk memutus hubungan denganmu. Bukan semata agar terhindar dari virus yang kau tebar, tetapi ingin tetap melindungi keluarga tercinta. Cinta dan kepedulian yang menguatkan kami untuk terus bertahan dengan tetap #dirumahsaja. Berat terasa, tetapi ada yang merasa jauh lebih berat lagi.

Salah satunya tim medis yang telah membantu kami menangani kondisi pandemi ini. Mereka berjuang dengan peralatan yang terbatas, sedangkan jumlah kasus terus bertambah. Rasa rindu mereka pendam jauh, karena ingin keluarga dan orang terkasih tetap aman dan terjaga.

Begitupun dengan kondisi pekerja lepas, mereka mendapatkan impas dari pekerjaannya, pemutusan hubungan kerja atau sepinya orderan. Padahal mereka adalah pejuang keluarga, tulang punggung ekonomi keluarga, lalu bagaimana kondisi anggota keluarga lainnya?

 

Masanya sudah berakhir

Covid-19 … Tak dipungkiri bahwa kehadiranmu atas kehendak-Nya. Kedatanganmu membuat perubahan dalam kehidupan kami. Tak sedikit hikmah yang kami dapatkan akan kehadiranmu ini. Namun, semua ada batas waktunya. Kami berharap saat ini atau esok dan esoknya kau sudah tidak ada lagi.

Akhiri sudah masa penjelajahanmu. Sudah saatnya kau pergi dan tak kembali lagi. Bukan karena kami tidak mencintaimu, tetapi tebar pesona yang sudah kau lakukan memang sudah pada batas akhir. Jadi cukuplah sudah sampai di sini.  Tak perlu kau menambah lagi waktu persinggahanmu. Kami ikhlas sepenuh hati melepasmu.

 

Terima kasih Covid-19

Covid-19 … Tak sedikit kepedihan yang telah kau torehan dalam diri kami. Namun tak sedikit pula hikmah yang telah kau berikan. Terima kasih kami ucapkan, dan ini menjadi pembelajaran berharga juga tak dilupakan begitu saja. Apa yang telah terjadi membuat kami menjadi jiwa yang lebih baik lagi.

Mata dan hati kami jadi lebih terbuka atas banyaknya kejadian akibat kehadiranmu. Rasa ini membuat kami kuat dan berusaha untuk terus menjaga ikatan kebersamaan juga kepedulian sebaik mungkin. Tanpa ikatan ini, kami terasa rapuh dan tak sanggup berdiri bila seorang diri. Karena kami adalah makhluk sosial yang akan selalu bergantung dengan keberadaan orang lain.

 

Kehidupan normal kembali

Covid-19 …  Kami rindu menjalani kehidupan normal seperti sebelumnya. Bisa menghirup udara segar dimanapun dan kapanpun. Anak-anak bisa bermain dengan bebas bersama teman-temannya, mengeksplor kemampuan mereka juga bisa datang kembali ke sekolah. Melakukan silaturahmi dengan teman, kerabat juga saudara tanpa batas waktu.

Masjid atau sarana ibadah bisa ramai dengan jamaahnya. Memang saat #dirumahsaja kami tetap bisa melakukan ibadah, tetapi rasanya berbeda. Salat berjamaah juga mendengarkan kajian menjadi hal yang sangat dirindukan. Terasa tenang dan nyaman di hati. Berkumpul bersama dengan sesama untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Kuasa.

 

Covid-19, sudah membersamai kita selama beberapa bulan ini dan entah kapan akan berakhir. Jelang akhir Ramadan ini, kami mempunyai harapan dan doa yang dipanjatkan untuk Covid-19. Harapan terbesar adalah kondisi pandemi ini bisa segera berlalu dan semuanya bisa kembali seperti sedia kala.

Hikmah yang dirasakan akan terus dijaga sebaik mungkin dan kepedihan akan kami kenang. Kondisi ini akan terus membekas dan menjadi sejarah tersendiri dalam kehidupan kami. Terima kasih Covid-19. Pergilah dan jangan kembali lagi. Biarkan kami menjalani kehidupan dengan kondisi yang jauh lebih baik lagi.

 

 

Salam.

Asih Mufisya

About Asih Mufisya Motherhood blogger dan mencintai dunia literasi juga suka baking yang simple.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas